Tema Pembahasan: Mengkoneksikan Museum dan Sekolah

Tempat: Museum Nasional Indonesia

Tanggal: 22 Mei 2017

Waktu: 14:30 sd 16:00 WIB

Dihadiri oleh:

Pihak Museum Nasional bagian Edukasi:
Aep Saepuloh S.pd
Drs. Oting Rudy Hidayat

Guru Sejarah SMA Diponegoro 1:
Robi  Amrullah, S.pd
Solikin Barmadjati, S.pd

Siswa SMA Diponegoro 1:
Namira
Nisrina Nur Azizah
Okky Andrianie
Venezia Azzahra
Ryta Fauzia
Giovani Sabrina Hersamsi

Tema Pembahasan: Mengkoneksikan Museum dan Sekolah

 

Notulensi FGD:

FGD kali ini mempertemukan pihak museum nasional sebagai tempat pengetahuan masyarakat mengenai benda-benda sejarah dari peradaban dan kebudayaan Indonesia dengan sekolah sebagai lembaga pendidikan. Tujuannya untuk mengkoneksikan program edukasi yang diinisiasi oleh Munas dengan kebutuhan guru dan siswa terhadap proses pembelajaran di sekolah.

Pertanyaan pertama diajukan kepada guru sejarah mengenai apakah kehadiran museum membuat guru menjadi terbantukan dalam proses pembelajaran? Pak Solikin mengatakan bahwa museum dapat menjadi sarana tambahan siswa untuk belajar mengenai sejarah di luar sekolah, karena siswa juga butuh melihat secara langsung benda berserjarah tersebut, tidak hanya sekedar melihat di buku-buku, selain itu kunjungan ke museum menjadi pengalaman dan suasana baru dalam proses belajar.

Selanjutnya mengenai komentar siswa terhadap kehadiran museum, Rita mengatakan bahwa koleksi benda yang ditampilkan minim informasi, hanya keterangan nama benda tersebut, tidak ada cerita dibalik benda itu dan kenapa ditampilkan dalam koleksi museum?

Pak Aep menjelaskan mengenai peran museum terhadap pendidikan terutam sekolah, salah satunya yaitu museum berperan juga dalam kurikulum, pihak museu,m berdiskusi dengan guru2 dalam penentuan materi ajar. Serta melalui buku pelajaran, gambar2 benda bersejarah yang ditampilkan di buku merupakan data yang dibuat oleh museum.

Sedangkan mengenai program edukasi yang ada dan pernah dibuat oleh museum yaitu pentas teater yang bekerjasama dengan teater garasi, cerita teater ini berdasarkan koleksi meseum. Lalu inovasi perangkat pembelajaran museum berupa permainan ular tangga, yang menggabambarkan tentang kebudayaan Indonesia. Pernah juga diadakan permainan berupa pencarian harta karun.

Dari penjelasan Pak Aep menyataka bahwa museum sudah mempunyai program edukasi yang menarik, namun tidak tersosialisasikan secara menyuluruh, para guru menanyakan bagaimana integrasi museum dengan jaringan sekolah, apakah informasi mengenai museum hanya sampai di sekolah2 tertentu?

Pak Aep menjelaskan kembali mengenai program museum keliling sebagai bentuk jemput bola kepada pihak sekolah, program ini mendatangi sekolah-sekolah dasar (SD) untuk memperkenalkan apa itu museum dan mengajak mereka untuk datang ke museum, bukan berarti hanya mengajak ke museum nasional, tapi juga museum yang berada di daerah sekitar sekolah. Upaya ini Pak Aep sebut sebagai membangun kesadaran tentang museum. Kemudian pak Aep juga menjelaskan tentang program Pekan Akhir Museum yang diperuntukan keluarga dan anak-anak datang ke museum.

Kemudian pertanyaan yang diajukan ke Pak Aep mengenai mengapa museum keliling hanya dilakukan di Sekolah Dasar? Tidak ada untuk SMA juga? Pak Aep menjelaskan bahwa kedepannya diharapkan ada pengembangan ke SMP, dan SMA. Hal ini membutuhkan prodesur birokrasi yang cukup panjang.

Program Akhir Pekan merupakan suatu bentuk kebanggaan museum dalam membangun kesadaran masyarakat mengenai museum. Lalu bagaimana antusiasme masyarakat kita dalam mengunjungi museum? Karena masyarakat kita tidak mempunyai kultur datang ke museum, seperti orang-orang di Eropa yang sampai mengantri panjang untuk datang ke museum.

Pak Oting menjelaskan bahwa museum terbuka untuk publik, segala fasilitas diperuntukan untuk museum. Misalnya ruang museum bisa digunakan untuk latihan menari atau musik, seperti gamelan bisa dimainkan oleh siapa saja, jika ada yang ingin latihan gamelan, silahkan. Upaya untuk membangun antusiasme tersebut yaitu melalui member museum atau program sahabat museum, diharapkan publik bisa datang ke museum tidak hanya satu kali, namun berkali-kali.

Siswa-siwa memberi imajinasi mereka terhadap program museum, hal ini berkaitan dengan perkembangan zaman, bahwa siswa sekolah saat ini terbiasa dengan teknologi seperti handphone dan aplikasi online. Seperti pemberian barcode pada keterangan museum. Ada pula yang mengharapkan mereka mempunyai pengalaman untuk mengetahui benda koleksi dengan cara virtual. Mengenai teknologi informasi ini juga dipertajam oleh JJ Adibrata bahwa menarik jika museum menjadi tempat eksplorasi siswa, karena siswa membutuhkan tawaran kreatif yang berbeda dengan metode belajar di sekolah.

Pak Oting memang teknologi informasi belum maksimal di museum nasional, tapi rancangan tsb sudah mulai dicoba. Saat ini museum sedang fokus dalam revitalisasi gedung, diharapkan tahun 2019 teknologi informasi sudah dapat berkembang. Namun peran pemandu juga tidak bisa dihilangkan sebab hal itu merupakan sentuhan personal dari fungsi kemanusian.

Sebagai generasi penerus, siswa sekolah SMA seharusnya bisa berperan aktif dalam pengembangan gagasan di museum, karena suatu juka mereka mempunyai peluang untuk kerja di museum, mempunyai ketertarikan untuk mengembangkan museum. Pak oting menjelaskan bahwa mereka sudah punya program partisipasi siswa, siswa dapat menjadi volunteer dalam pengembangan museum.

FGD hari ini intinya Museum mempunya visi dan misi serta program kreatif yang menarik, hanya saja persoalan publikasi menjadi hambatan bahwa tidak tersosialisaikan secara luas, hal ini juga dikarenakan SDM museum yang sangat sedikit. Sedangkan koneksi dengan sekolah, sudah dilakukan dengan adanya MGMP, Musyawarah Guru Mata Pelajaran.