Venue : Gudang Sarinah Ekosistem, Jakarta
Event  : Kuliah Terbang
Years  : 2017

Kuliah Terbang, program yang diinisiasi Serrum kembali hadir sebagai platform untuk berdiskusi dan saling bertukar pengetahuan dan pengalaman.

Dengan mengundang Daniella F. Praptono yang biasa disapa Kunil yang juga aktif mengelola RURUkids, salah satu program edukasi anak di ruangrupa.

Akhir Mei 2017, Kunil berkesempatan mengunjungi Children Biennale di Galeri Nasional Singapura.

Museum Menjadi Wahana Imajinasi Anak : Mungkinkah?

Oleh Rianto*

19-23 Mei 2017 Daniella F Praptono berkesempatan mengunjungi pelbagai museum di Singapore. Saat itu Daniella menghadiri Children Biennale yang pertama kali diadakan di National Gallery Singapore. Serrum menggali cerita seru“Bu Kunil” pengampu Ruru Kids ini saat berkeliling hilir-mudik mencari karya-karya yang ada dalam Children’s Biennale dalam acara Kuliah Terbang. Kuliah Terbang ini kembali diadakan Serrum sebagai platform saling berbagi cerita, pengalaman, bahkan menjadi ajang refllektif mengenai dunia seni rupa.

Children’s Biennale sendiri merupakan acara seni rupa pertama kali yang diadakan agar orang-orang dapat terbang melalui cerita dan impian. Saat itu awalnya Daniella merasa tak ngeri melintas diatas jembata. Namun mendapati dirinya diatas ketinggian ia mulai merasa ngeri. Padahal ia hanya berdiri diatas ketinggian tak sampai satu meter. Pengalaman itu ia dapati ketika melintas di karya Firewalk: A Bridge of Embers. Karya ini dibuat Mark Justiniani agar anak dapat mengalahkan rasa takutnya. Setiap orang mempunyai pengalaman di mana ketakutan menjadi penghalang. Bagi Daniella mengalahkan rasa takut sendiri untuk pengalaman anak-anak ini merupakan sebuah pesan.

Daniella beranggapan setiap karya yang dibuat oleh seniman-seniman yang diundang di Childrens Biennale ini merespon dunia anak. Sentuhan-sentuhan karya-karya seniman dibuat agar dekat dengan anak. Seacara kuratorial karya dekat dengan anak. Ketika masuk pengunjung hanya dibatasi sekitar 6 orang.

Begitu pula karya The Obliteration Room karya Yayoi Kusama. Karya ini begitu dekat dengan interaksi anak. Di mana pun anak-anak pasti senang menempelkan sticker. Di karya Yayoi ini anak-anak bebas menempelkan sticker berbentuk bulat warna-warni di mana saja. Daniella bercerita,”ruang itu dibentuk seperti ruang tamu ketika Yayoi masih kecil”. Dari foto-foto yang dijepret dari kamera Daniella tergambar suasana anak-anak antusias untuk menempelkan sticker itu di mana saja: meja, tembok, kursi.

Homogenizing and Transforming World karya teamlab pun membuat Daniella betah berada di dalam labirin penuh bola dan warna. Melalui kameranya ia menelusuri setiap labirin penuh bola itu. Ada gambaran anak-anak pun begitu menyukai karya tersebut. Konsep bermain yang penuh takjub bertemu dengan karya seni yang membuat keduanya mempesona.

Ada juga karya yang sepi saat dikunjungi Daniella tapi memiliki pesan begitu kuat. Karya itu merupakan The Sonet In Blue karya Tran Trong Vu. Vu membuat karya ini karena teringat sang ayah yang pengumpul sampah-sampah plastik. Vu membuat karya ini juga dari barang-barang bekas. Vu juga mengumpulkan impian dari anak-anak di seluruh Asia termasuk juga impian dari anak-anak Indonesia. Vu menulis ulang impian itu di karyanya The Sonet In Blue. Impian itu berupa kata-kata yang termuat dalam puisi ataupun do’a.

National Galerry Singapore juga memiliki Kepple Centre for Art Education. Kepple Centre menurut Daniella rutin mengadakan workhop untuk anak dan keluarga. Di sini pula ada sebuah lab seniman di mana anak-anak dapat membuat keramik. Anak-anak membuat keramik secara digital. Diperkenalkan juga hasil kerja tangan asli barang-barang keramik itu sendiri seperti gelas, teko, piring. Ataupun menelusuri imajinasi dunia anak penuh warna di Art Plasyscape. “Magical Forest” ini digubah oleh Sandra Lee. Sandra Lee sendiri merupakan ilustrator buku anak. Sehingga karyanya penuh dengan warna dan tempat-tempat bermain khas anak. Anak-anak juga diajarkan mengenai cetak-mencetak. Daniella juga mengunjungi Artscience Museum. Artscience Museum mengusung tema “Where Art Meet Science”. Ada juga Museum mainan yakni museum yang mengkoleksi mainan anak-anak. Museum ini dinamakan mint museum of toys. Museum ini memiliki koleksi mainan dari tahun 1840-1970-an.

Museum dan anak

Daniella melalui kunjungannya ke beberapa museum di Singapore dan Children’s Biennale merasakan “interaction as a medium”. Interaksi antar museum dan anak begitu terlihat. Museum menjadi medium interaktif atau dikatakan sebagai simulasi pengetahuan. Pengalamamnya melewati jembatan Firewalk merupakan pengalaman di mana anak pun diajarkan untuk menghalau rasa takutnya. Pengalaman menjelajah museum itu menjadi reflektif tersendiri mengingat fakta museum dan pendidikan kita hari ini. Karya-karya seni rupa yang berbau dunia anak-anak masih dianggap sepele dan kurang penting.

Arman yang juga mantan guru di sekolah mengatakan dari segi program mengunjungi fieldtrip ke museum bisa dikatakan sudah berhasil. Tetapi kini perjalanan ke museum yang dianggap membosankan hanya melihat ‘batu’ digantikan ke outbound alam ataupun ke Kidzania. Pengalaman anak-anak bermain di sawah dengan kerbau mungkin lebih interaktif dibandingkan hanya berkunjung ke museum. Ini juga yang menjadi pengamatan MG. Pringgotono dalam hal kurikulum. Jangan-jangan selama ini kurikulum tidak jalan dalam pengembanganan imajinasi anak. Museum sulit diterima menjadi tempat yang interaktif bagi anak.

Arman juga pernah membuat karya seni di mana anak-anak dapat merespon foto dan gambar. Di sana didapati respon anak-anak yang menggambar ulang memberikan respon yang tak terduga.

Mungkin ini juga terjadi karena kultur masyarakat yang masih belum menganggap museum menjadi tempat yang interaktif bagi anak.Dari pengamatan Angga Wijaya bisa dilihat dari tiga: Pertama, kultur datang ke museum kurang. Kedua, kultur datang ke museum bersama keluarga juga kurang. Ketiga, kesadaran seniman juga membatasi imaji karya yang interaktif anak.

Barangkali pengalaman Daniella mengunjungi museum-museum di Singapore yang banyak sekali interaktif dengan anak adalah kunci keberhasilan sebuah kota. Museum hanya menjadi bagian kecil dalam kerangka besar kita memperbincangkan kota yang seperti apa yang membuat anak betah untuk bermain. Dan ini tantangan ke depan bagi seniman-seniman mencipta ruang yang interaktif bagi anak. Mungkin juga jawabanya bukan melalui pendekatan seni seperti yang dikatakan oleh Jeje.

 

 

*Rianto merupakan salah satu anggota tim riset Serrum. Aktif menulis dibeberapa surat kabar lokal maupun nasional dan menuangkan tulisannya di  blog pribadinya. Sekarang sedang menjalankan program Pena Siswa (Sebuah wadah menulis untuk Pelajar) bersama Serrum and Plus.