Ngobrol Tacit Bersama Bungen

Oleh Rianto*

Apa jadinya ketika sekumpulan atlit balap sepeda berkumpul dan menceritakan pengalamannya selama ini dalam hal naik sepeda? Atau sekumpulan anak-anak yang berbakat bermain bola di sekolahkan sepak bola? Yang pasti setiap individu memiliki bakat, pengalaman dan kemampuan yang berbeda. Dalam hal sepak bola misalnya setiap anak dibimbing dan diberikan asupan gizi yang sama oleh pelatih. Tetapi setiap anak akan muncul kreativitasnya yang berbeda dalam hal mengolah bola. Itulah mengapa seorang Lionel Messi berbeda dengan Cristiano Ronaldo. Di sinilah Tacit berbicara tentang pengalaman berbasis fakta yang dialami seseorang. Cerita itu terangkum dalam Kuliah Terbang “Membongkar Tacit” di Gudang Sarinah Ekosistem Hall A 1. Serrum mengundang Budi Mulia atau biasa yang disapa dengan Bungen ini untuk membicarakan Tacit ini.

Bungen merasa setiap orang-orang berkomunitas selalu disibukan dengan permasalahan dan program-program. Padahal menurutnya bukanlah program tapi output yang mau dihasilkan yang sering diabaikan. Output ini dapat digambarkan tentang tujuan/cita-cita yang diharapakan oleh sebuah komunitas. Menurut Bungen ketika output itu jelas maka program-program akan berjalan. Inilah yang membedakan antara problem solving dengan orang-orang yang punya cita-cita dan tujuan. Dalam sebuah komunitas output inilah yang mesti di brainstroming.

Brainstroming ini berkaitan dengan pertanyaan-pertanyaan yang banyak tentang tujuan output yang dibangun. Ketika output ini benar-benar di brainstroming maka akan terbentuk prosedural learning. Di sinilah Tacit berbicara tentang manajemen pengetahuan. Terutama pengetahuan-pegetahuan yang memang kasat mata.

Saat membuat output inilah orang tidak bisa sendirian. Semisal ketika membuat peraturan tentang kebersihan gedung. Orang tak bisa sendiri memutuskan peraturaan-peraturan kebersihan menurutnya sendiri. Di sinilah tacit menekankan pada pertanyaan yang mengundang dialog semua orang dalam hal memutuskan tujuan. Karena tacit akan merangkum obroalan makna kebersihan dari masing-masing pengalaman. Dari obrolan itulah akan tercapai peraturan-peraturan yang akan disepakati.

Begitupula saat membuat kurikulum yang akan dijadikan program. Bungen mencontohkan Serrum yang mempunyai pengetahuan mengenai membuat program kurikulum maka mesti ada prosedural learning. Ketika kurikulum mempunyai tujuan maka tujuan itulah yang akan menjadi prosuderal learning. Pengetahuan dapat dibagi ketika ada prosedural learning.

Tacit juga berbicara tentang pengetahuan yang dialami sehingga orang lain dapat mempelajari pengetahuan itu dengan prosedur yang dibuat berdasaran fakta dan pengalamannya itu. Arman ketika bersekolah ia tidak percaya dengan guru olah raganya yang gendut mampu mengajarinya sepak bola. Saat ia berkunjung ke rumah sang guru terdapat piala-piala mengenai prestasi gurunya di sepak bola. Dari situ Arman baru tahu gurunya ynag gendut itu memang mempunya tacit dalam hal melatih sepak bola.

MG Pringgotono pernah mempunyai pengalaman saat mengecat mobil ia hanya disuruh mengamplas dulu mobil yang akan dicat. Saat itu ia menyadari ketika mengamplas itu ia lebih tahu badan mobil dan memudahkannya saat mengecat. MG jadi lebih memudah membayangkan hasilnya ketika akan mengecat mobil/motor itu. Bungen mengatakan pengalaman MG itu orang yang menyuruhnya bisa disebut sebagai fasilitator. Ia mempunyai prosedural learning dengan mengamplas akan mendapatkan pengetahuan. Dan yang mengamplas pun pada akhirnya dapat mengembangkan pengetahuan yang didapatnya.

Itulah mengapa Tacit berbicara tentang cerita nyata yang dialami. Menyusun prosedural juga akan mengalami banyak perbedaan pendapat. Kita teringat dengan pendekar saat ia belajar jurus kungfu. Sang guru hanya memintanya untuk memikul air. Sang guru punya prosedurnya sendiri agar pengetahuan mengenai kungfunya dapat diserap dan dimengerti sang murid.

Manajemen skill dan tacit berbeda. Manajemen skill lebih menekankan perubahan tindakan. Di dorong disiplin maka orang dibiasakan dengan bangun pagi. Di dalam tacit saat berbagi pengetahuan sang mentor akan berhasil jika yang dimentori dapat mengembangkan pengetahuannya sendiri.

Prosedur juga berbicara tentang bagaimana komunikasi berjalan. Bungen mengatakan ketika membuat program sebetulnya kita seperti membuat skenario film. Karena kita tahu jika melakukan sesuatu akan menghasilkan apa ke depan dengan konsekuensi yang akan didapatkan dari prosedur.

Gudang Sarinah Ekosistem (GSE) untuk menebarkan pengetahuan-pengetahuan individu orang-orang di dalamnya membuat Gudang Ekskul. Seniman-seniman yang memiliki pengetahuan desain, melukis, patung dapat menularkan pengetahuannya atau tacitnya. Gudskul menjadi tantangan bagi GSE dalam membuat program. Bungen mengatakan Gudskul sendiri saat pembuatan program mesti melibatkan orang-orang dengan suasana santai dan obrolan. Kumpul bersama dan berbagi obrolan menjadi agenda penting dalam menyusun program.

 

*Rianto merupakan salah satu anggota tim riset Serrum. Aktif menulis dibeberapa surat kabar lokal maupun nasional dan menuangkan tulisannya di  blog pribadinya. Sekarang sedang menjalankan program Pena Siswa (Sebuah wadah menulis untuk Pelajar) bersama Serrum and Plus.