Relasi Pendidikan dan Seni Rupa di Pekanbaru

Oleh Rianto*

Kamis 6 Juli 2017 di Anjungan Seni Idrus Tintin Serrum mengadakan diskusi terpumpun. Diskusi mengangkat tema “Relasi Pendidikan dan Seni Rupa di Pekanbaru”. Pelbagai siswa, guru, kepala sekolah, seniman, pejabat hadir dalam diskusi terpumpun. Diskusi terpumpun diadakan dalam rangkaian Pekan Seni Media di Pekanbaru. Pekan Seni Media menjadi ajang memperkenalkan seni media di kalangan masyarakat Pekanbaru.

Mengenai seni Soemardhi Thaher tokoh pendidikan di Pekanbaru mengatakan hidup tanpa seni menjadi gersang. Di sekolah pelajaran seni rupa masih menjadi pelajaran selingan. Seni rupa di sekolah-sekolah masih kurang populer dibandingkan dengan teater dan sastra. Sayangnya di sebuah sekolah di Pekanbaru misalnya jarang sekali guru seni budaya yang latar belakangnya seni rupa. Guru-guru seni budaya berasal dari lulusan seni tari, seni teater maupun musik. Kurangnya guru-guru yang berlatar belakang seni rupa juga menjadi kendala dalam mempopulerkan seni rupa di sekolah-sekolah. Pelajaran seni rupa yang kurang diminati diharapkan perupa hadir ke sekolah-sekolah. Perupa hadir ke sekolah untuk dapat memberikan pelbagai pengetahuan seni rupa di kalangan siswa.

Perupa inilah yang nantinya dapat bekerjasama dengan sekolah dalam menumbuhkan serta merawat potensi kreatif seni rupa siswa sekolah. Artinya diperlukan relasi yang lebih spesifik antar sekolah dan seniman. Relasi ini tentunya menjadi mata baca perkembangan seni rupa Riau semisal dengan menumbuhkan muatan lokalitas dalam berkarya di kalangan siswa. Dengan terjunnya seniman ke sekolah menjadi jalan menumbuhkan seni rupa di kalangan siswa. Masuknya perupa ke sekolah-sekolah pernah dilakukan oleh Sindikat Kartunis Riau (Sikari). Mereka melakukan workshop komik di sekolah-sekolah. Sekolah tidak perlu sungkan untuk bekerjasama dengan perupa Riau. Semisal guru multimedia mengundang seniman komik untuk membuat animasi. Kolaborasi ini diharapkan menambah pengetahuan bagi siswa.

Perkembangan seni rupa dan pendidikan di Pekanbaru tak lepas dari perkembangan kota Pekanbaru. Kota ini diharapkan sebagai inspirasi melukis, menulis syair, ataupun mural. Gagasan itu pernah di lontarkan oleh Yusmar Yusuf di bukunya Gaya Riau Sentuhan Fenomenologi Budaya Melayu di Tengah Globalisasi (Pusat Pengajian Bahasa dan Kebudayaan Melayu Universitas Riau). Kota Pekanbaru yang panas dan membuat dehidrasi orang-orang memerlukan taman kota. Taman kota dibuat tak hanya untuk menambah oksigen serta membuat sejuk bagi pejalan kaki. Taman kota juga sebagai tempat di mana anak-anak sekolah bisa melukis. Kota Pekanbaru dengan tamannya menjadi denyut seni dan budaya: syair, lukis, mural. Di sini karya seni yang dibuat merupakan respon dari orang-orang terhadap kota dan kampungnya. Seni menjadi medium kabar perkembangan apapun: pendidikan, sosial, politik. Yusmar Yusuf juga mengatakan pentingnya sebuah gedung kesenian di sebuah kota sebagai tempat pengembangan seni.

Ketiadaan galeri di Pekanbaru juga menjadi poin penting seni rupa di Pekanbaru terbilang sepi. Sebuah kota seperti Pekanbaru mestinya memiliki galeri. Galeri menjadi syarat sebuah kota metropolis. Galeri di Pekanbaru menjadi tempat di mana perupa dapat berpameran. Sehingga perupa di Pekanbaru tak menunggu undangan galeri-galeri di Jakarta ataupun kota-kota lain di Jawa semisal Bandung dan Yogyakarta untuk dapat majang karya. Inilah juga yang diamati Dantce S Moeis mengenai perkembangan seni rupa Riau. Perkembangan seni rupa di Pekanbaru masih berada di bayang-bayang Jawa. Dantce masyhgul atas catatan perkembangan seni rupa di Sumatera dan khususnya Riau yang tak nampak. Riau masih dalam pencarian dan penemuan identitas kesenirupaan.

Institusi seni rupa yang tak ada di Pekanbaru bisa dikatakan menambah sepinya wacana seni rupa. Seniman yang ingin menggali wacana seni rupa di institusi akademik hijrah ke Sumatera Barat dan institusi seni yang berada di Jawa untuk belajar. Dan ini tidak hanya terjadi di seni rupa, gejala ini juga terjadi pada perkembangan sastra, tari, musik dan teater. Ini menandakan Pekanbaru membutuhkan institusi seni rupa yang menjadi rumah ide bagi siswa, perupa dan masyarakat Pekanbaru.

Dukungan media cetak untuk menjadi pengabar seni rupa di sebuah kota juga menjadi bagian penting. Keberadaan media cetak terutama koran pun dirasakan menjadi media penting yang memuat konten seni rupa. Semisal di koran lokal di hari Minggu di Riau Pos kita mudah menemukan dan membaca ulasan mengenai sastra. Namun tak nampak ulasan mengenai seni rupa. Pentingnya perkembangan media cetak dan sosial/online ini dirasakan Eko dari Sikari. Dengan jarangnya koran-koran memuat kartun membuatnya memanfaatkan media sosial sebagai medium penyampai pesan. Medsos menjadi jalan penyampai pesan dalam berkarya. Kekuatan medsos ini juga yang dilirik anak-anak muda dalam berkarya.

Semoga kedepannya seni rupa di Pekanbaru menjadi berkembang. Setali dua uang yang dikatakan Sanento Yuliman perkembangan seni rupa terkait pula dengan perkembangan pendidikan terutama perguruan tinggi yang menyentuh batas-batas seni di masyarakat. Pekan Seni Media yang diadakan Forum Lenteng dan Direktorat Jenderal Kebudayaan, Direktorat Kesenian, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan di Pekanbaru menjadi turning point atau arus balik akankah tergerak para seniman, siswa, guru, kepala sekolah, stake holder untuk melahirkan institusi ataupun sekolah seni rupa. Menjadi catatan penting ke depannya Pekanbaru bisa menjadi kota seni media dengan ditopang pendidikan tinggi seni rupa yang mumpuni. Semoga.

 

*Rianto merupakan salah satu anggota tim riset Serrum. Aktif menulis dibeberapa surat kabar lokal maupun nasional dan menuangkan tulisannya di  blog pribadinya. Sekarang sedang menjalankan program Pena Siswa (Sebuah wadah menulis untuk Pelajar) bersama Serrum and Plus.