Mulok Tanah Butuh Buku Ajar

Oleh Rianto Irawan*

Di ruang kantor kepala SDN Jatisura 1 Serrum dan JAF bertemu Hafidin. Ia merupakan kepala SDN Jatisura 1. Serrum melanjutkan penelitian mengenai program Kurikulab Masuk Desa (KMD) berupa Mulok Tanah. Hafidin mengatakan Komik Mulok Tanah yang dibuat Amy merupakan bacaan penunjang. Hafidin menganggapkomik sebagai bahan bacaan perlu diperbanyak untuk perpustakaan. Selain Komik Mulok Tanah, Wacil Wahyudi sebagai pendidik dan seniman membuat perangkat pembelajaran berupa dua silabus yang berdasarkan Kurikulum 2013 (kurtilas) dan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Hafidin tertarik dengan silabus berdasarkan kurtilas. Karena silabus yang dibuat banyak menekankan praktik.Silabus ini sesuai dengan semangat kurtilas.

KMD butuh buku bahan ajar agar silabus dapat berjalan. Mulok Tanah dengan bahan ajar yang dibuat dapat mengangkat lokalitas dan lekat dengan kehidupan sehari-hari. Mulok Tanah menjadi pelajaran yang diharapkan mampu menunjang pengajaran di sekolah. Selama ini mulok yang dilakukan di SD Jatisura 1 hanya Bahasa Sunda, Bahasa Inggris, dan Karawitan. Sering sekali sekolah-sekolah memilih bahasa Inggris. Mulok Tanah diharapkan menjadi pilihan dalam pelajaran Seni Budaya dan Prakarya (SBK) di Jatiwangi.

Bagaimana kalau nanti diadakan pameran di sekolah mengenai Mulok Tanah? Hafidin mengatakan di Jatisura 1 pernah mengadakan pameran hasil kerajinan anak-anak. Sepertinya gagasan pameran di sekolah menjadi bagian penting. Kerja kolaboratif melalui Mulok Tanah diharapkan dapat ditampilkan secara pameran yang setiap warga sekitar dapat melihat hasil dari program KMD ini.

Sumber belajar

Kampung Wateskami berkeliling ke kampung ini. Siang mungkin begitu terik, kami pun singgah di  Saung (pendidikan) Ciranggon. Saung ini mengingatkan kembali akan pesan leluhur mengenai tanah dan bercocok tanam. Barangkali "menanam merupakan bentuk perlawanan". Mengingat tanah ini penuh konflik. Melalui jalan kebudayaan dan bercocok tanam warga berbicara tentang hak mereka. Secara kultural ruang pendidikan ini menjadi lab: tanah diyakini sebagai medium belajar. Mereka bercocok tanam dan menghasilkan makanan yang tumbuh dari tanah mereka sendiri. Persis seperti kue jahe dan keripik daun  sawi sendok itu dibuat oleh warganya sendiri. Kampung ini menjadi media belajar yang cocok bagi murid-murid belajar Mulok Tanah. Sebuah Kampung pun menjadi sumber belajar dalam Mulok Tanah.

Iing Solihin merupakan pemilik dari Saung Ciranggon. Iing ingat ketika itu ia sering diajak neneknya ke sawah. Di sawah itu ada hima atau saung. Di saung pula ia melihat orang-orangan sawah atau bebegig. Burung-burung pun enggan merusak padi. Neneknya mengajar kan padanya soal pentingnya menanam. “Menanam soal mencintai,” kata Iing. Serrum mendapatkan cerita itu saat wawancara di Jatiwangi Art Factory (JAF). Iing merupakan sumber belajar Mulok Tanah. Di halaman rumahnya berdiri Saung (Pendidikan) Ciranggon. Saung ini akan menjadi tempat belajar bagi anak SDN Jatiwangi 1. Anak-anak diperkenalkan pentingnya bercocok tanam.

Bicara soal tanah, bercocok tanam merupakan cara mencintai tanah. Dan kebun menjadi perpustakaan anak mengenal tanah dan yang tumbuh di atasnya. Bahkan mengenal yang hidup di dalam tanah itu sendiri: cacing yang membantu menyuburkan tanah. Tak hanya itu, anak-anak juga akan mengenal bagaimana menanam dapat membuatmu membuat makanan dari apa yang kalian tanam. Kripik sawi sendok dan kue jahe adalah salah satunya. Makanan itu bahannya dari apa yang tumbuh di Saung Ciranggon. Di Mulok Tanah ini Iing dan Saung Ciranggon menjadi sumber belajar apresiasi tanah di Jatiwangi.

Hanyaterra

Serrum bertemu dengan Tedi dari Jatiwangi Art Factory (JAF). Kami meminta Hanyaterra grup musik yang dinaunginya sebagai sumber belajar. Mulok Tanah sebagai bahan ajar berbasis lokalitas memerlukan sumber belajar kreatif. Hanyaterra merupakan grup musik yang membuat alat musiknya sendiri. Mereka membuat gitar yang bodinya dari genteng.

Hanyaterra akan mengajarkan anak-anak SDN Jatisura 1 mengenai apresiasi seni di Jatiwangi. Tedi mengatakan Hanyaterra akan masuk ke kelas dan memperkenalkan alat-alat musik. Anak-anak juga akan dibimbing membuat alat musik sampai mereka dapat memainkan musik bersama. Tedi bercerita ia akan mengajarkan anak-anak membuat alat tiup dari tanah. Alat itu bisa digunakan saat praktik alat saat bermusik bersama.

Di Mulok Tanah kegiatan kesenian Jatiwangi seperti musik, sastra, seni rupa menjadi pengantar menarik dalam penanaman nilai budaya lokalitas yang khas dan lekat dengan kehidupan sehari-hari mereka. Hanyaterra adalah sumber belajar dalam perspektif musik. Dari perspektif pendidikan, anak-anak diberikan penjelasan bahwa tanah tak hanya menjadi pengetahuan umum. Tetapi ada juga kreativitas seni yang membawa orang-orang agar lebih menghargai dan mencintai apa yang mereka punya. Dan ini tentunya belum ada di matapelajaran mulok yang mereka pelajari.

Serrum juga berkesempatan ngobrol bersama Dominique Lammli. Ia merupakan seniman sekaligus akademisi dan filsuf. Ia sedang residensi di JAF. Saat presentasi mengenai seni dan daur ulang ia mengajak warga di Blok Pahing Desa Jatisura untuk bercocok tanam. Kerja seni Dominique bisa dikatakan penting bagi Serrum. Karena ia menyentuh ranah pendidikan dan transfer pengetahuan bagaimana orang-orang berkebun melalui daur ulang. Ia mengaku kakeknya merupakan petani. Saat kami bertanya perlukah anak-anak belajar bercocok tanam? Baginya tak hanya bercocok tanam, memasak, membawa bekal ke sekolah, menyulam itu merupakan hal yang penting bagi anak.

Di Zurich tempat tinggal Dominique orang-orang berkebun di rooptop. Anak-anak kota yang tinggal di flat mulai berkebun dan mengenal bunga-bunga. Berbeda budaya namun kita memiliki masalah yang sama: perubahan iklim atau global warming. Dari obrolan dengan Dominique, sepertinya Mulok Tanah yang kami susun mesti menyentuh keseharian anak. Semisal dari sisa bekal yang mereka bawa ke sekolah bisa di mulai pengenalan kompos dan tanah sebagai medium menanam. Pertanyaannya apakah Mulok Tanah dapat mengajak anak-anak di SDN Jatisura 1 untuk dapat mengenal tanah Jatiwangi?

*Rianto Irawan adalah salah satu periset dan penulis di Serrum. Lulusan Jurusan Pendidikan Geografi Universitas Negeri Jakarta ini sekarang memegang divisi publikasi dan penerbitan pada Festival Ekstrakurikulab. Pria ini aktif dalam beberapa organisasi, salah satunya adalah Lembaga Kajian Mahasiswa di kampusnya saat itu

Dokumentasi riset sumber belajar untuk muatan lokal tanah