Adalah sebuah program yang bergerak dibidang kesenian khususnya seni rupa. Menjalin kerjasama dengan badan-badan kesenian dan kebudayaan lain. Berdiri pada tahun 2004 atas inisiatif Arief Rahman (arman), MG Pringgotono, Winanda, Yudhi Pramudia, Agus Jemat, Jeje Adi Adibrata, M. Sigit dan RM.Herwibowo (ombow).

Sebagai sebuah media alternatif mengingat kampus adalah sebagai laboratorium bagi mahasiswa untuk bekerja kreatif dan memberi peluang bagi mahasiswa untuk melakukan eksperimen dan eksplorasi secara intens pada bidang-bidang kesenirupaan seperti lukis, patung, video, desain grafis, seni grafis murni, fotografi, keramik dan lain sebagainya.  Pengusahaan proses fasilitasi dilakukan dengan cara pengumpulan dana secara kolektif dan bersifat sukarela dari para mahasiswa baik mahasiswa seni rupa maupun mahasiswa-mahasiswa diluar jurusan seni rupa.

Project_or memilih mahasiswa seni rupa dan jurusan lain serta sangat mungkin  untuk silang kampus dan komunitas independen lainnya.  yang memiliki bakat, ketertarikan dan prestasi di bidang seni khususnya seni rupa untuk disupport, difasilitasi dan dimotivasi.  Dalam proses perekrutan, project_or memberi peluang untuk para mahasiswa untuk mencalonkan temannya atau bahkan dirinya sendiri sebagai choosen artist (partisipan) dengan menyertakan alasan mengapa ia atau temannya tersebut pantas terpilih dan mendapat support. Setelah proses pencalonan tersebut, project_or membatasi dan menyaringnya – project_or mengadakan seleksi atau penyaringan nama-nama calon partisipan berdasarkan kriteria-kriteria yang bersifat fleksibel sesuai dengan ketentuan yang berlaku - menjadi  6 orang untuk tiap project.

Project_or memfasilitasi mahasiswa yang terpilih sebagai partisipan untuk berdiskusi, mengembangkan ide atau gagasan, riset dan berkarya.

Project_or sebagai forum diskusi seni rupa mahasiswa menjadi wadah bagi mahasiswa seni rupa dan jurusan lain serta dosen untuk saling bertukar ide, pengalaman, teori maupun teknik.

Dalam prosesnya, project_or merekrut mahasiswa dengan latar belakang yang berbeda  untuk mengkolaborasi ide bersama, diskusi dan riset selama 1 bulan, dan 1 bulan berikutnya untuk melakukan proses eksekusi karya individual. Dalam hal ini choosen artist (partisipan) dapat berproses, bekerja sama, dan mempresentasikan karyanya dalam mengangkat tema bersama sebagai konsep dasar berkarya. Proses keseluruhan ini memakan waktu kurang lebih selama 2 bulan.

Is a program that moves in the field of art, especially art. Establish cooperation with other arts and cultural bodies. Established in 2004 on the initiative of Arief Rahman (arman), MG Pringgotono, Winanda, Yudhi Pramudia, Agus Jemat, Jeje Adi Adibrata, M. Sigit and RM.Herwibowo (ombow).

As an alternative media, campus is a laboratory for students to work creatively and provide opportunities for students to experiment and explore intensely in the fields of artistry such as painting, sculpture, video, graphic design, pure graphic arts, photography, ceramics and other etc. The facilitation of the facilitation process is done by collecting funds collectively and voluntarily from the students both art students and students outside the art department.

Project_or selects art students and other majors and is very likely to cross campus and other independent communities. Who have talents, interests and achievements in the field of art, especially art to support, facilitated and motivated. In the recruitment process, project_or provides an opportunity for students to nominate a friend or even himself as a choosen artist (participant) to include the reason why he or his friend deserves to be elected and supported. After the nomination process, project_or limits and filters it - project_or conducts selection or screening of candidate names based on flexible criteria in accordance with applicable provisions - to 6 for each project.

Project_or facilitates students who are selected as participants to discuss, develop ideas or ideas, research and work.

Project_or as a student art discussion forum becomes a forum for art students and other majors and lecturers to exchange ideas, experiences, theories and techniques.

In the process, the project_or recruited students with different backgrounds to collaborate on shared ideas, discussions and research for 1 month, and the next 1 month to perform individual work execution processes. In this case choosen artist (participant) can proceed, work together, and present his work in bringing the theme together as the basic concept of work. This whole process takes approximately 2 months.

 

Times 
25-28 Januari 2005
Venue 
Bursa Seni Gedung F. Seni Rupa UNJ
Participants :
Murki Azis
Ludzfi Sabdakir
Riried Hari
Yudhi Pramudya

Project_OR #1 Rasain Nich Seni

MELIHAT, MENDENGAR, MERABA, MENCIUM DAN MERASAKAN SENI*

Scroll down for English

Qurotul Aini Mahmudah

Sesosok manusia berdiri di kelilingi makanan basi dan berbau busuk. Dia mencoba melepaskan diri dari bau busuk itu yang terpaksa terus dia hirup. Tapi apalah daya, mulutnya terbungkam dan tubuhnya terikat rantai yang cukup kuat.

Sosok manusia tersebut adalah orang yang sering melakukan perbuatan dosa. Ia melupakan satu kewajiban yang menurutnya sepele tapi sangat vital. Konon, menurut cerita, dia seorang manusia yang tamak. Dia langsung mencaplok makanan yang dia lihat, tidak peduli halal atau haram, serta tanpa didahului membaca do’a walau sekadar basmallah—ini digambarkan dengan lafaz basmallah yang terpampang di dinding.

 Figur yang diceritakan di atas adalah buah karya Sukarna Praja, mahasiswa jurusan Seni Rupa angkatan 2002. Pesan moralnya, orang yang lupa berdo’a akan celaka. “Sesuai dengan tema ‘Rasain Nich Seni’, gua coba nampilin figur manusia ini,” tutur Sukarna.

Selain Sukarna masih ada tiga orang yang menampilkan karyanya, yaitu Murki Azis Fikri, Lutfi Sabdakir dan Ririred Hari. Keempat seniman tersebut berapresiasi, menunjukkan kepada publik tentang sisi lain dari seni—‘rasanya seni’. Penampilan mereka bagian dari acara pameran bertajuk PROJECT_OR yang diselenggarakan di  Bursa Seni Rupa FBS, 25-28 Januari.

Menurut Arif Rahman, Ketua Pelaksana, pameran ini berangkat dari gagasan Riri yang ingin membuat karya yang bisa dinikmati oleh orang awam—dengan kue. Gagasan tersebut kemudian dilanjutkan dengan dialog rutin yang diadakan 2 kali seminggu. Akhirnya muncul ide yang intinya memperkenalkan kepada publik bahwa seni itu bisa dirasakan oleh orang awam. Nama PROJECT_OR ini pun mempunyai arti yang unik seperti uniknya seni. “Awalnya kita tidak tahu sebenarnya itu namanya PROJECT_OR atau apa. Cuma kita sudah dapat suatu ide dasarnya,” kata Arif.

Seni itu sesuatu yang indah, tapi pada umumnya orang hanya menikmati keindahan itu dengan melihat atau mendengarkannya. Tapi PROJECT_OR ini menunjukkan sesuatu yang beda. Salah satunya karya Riri. Ia membuat patung manusia mengenakan bikini bernama Rara. Patung tersebut terbuat dari bahan makanan seperti coklat, permen, wafer dan bolu. Pengunjung bisa menikmati karya seninya dengan melihat, meraba, mencium bahkan memakannya.

Suasana pameran di Bursa Seni cukup ramai oleh pengunjung. Di bagian depan berdiri sesosok patung manusia terkurung dalam penjara dengan kepala menunduk dan tangannya menggenggam teralis. Di telinganya terpasang airphone yang mengeluarkan bunyi suara-suara alam. Menurut Murki, mahasiswa yang menciptakan karya tersebut, sosok patung itu adalah bentuk visualisasi dari kesendirian, kesunyian dan kesepian yang pastinya pernah dirasakan oleh setiap manusia.

Berbeda halnya dengan Lutfi Dzakir. Mahasiswa jurusan Seni Rupa yang mahir dalam desain grafis ini menciptakan karya instalasi mixed media dengan video-art tentang memasak telur; awalnya telur paskah yang dihiasi kemudian dipecah dan diceplok, jadilah telur ceplok. Proses tersebut direkam dan diputar ulang.

Meskipun belum bisa dibilang berhasil seratus persen—karena hanya ramai pada saat pembukaan dan pada hari-hari berikutnya terlihat cukup legang—ini merupakan satu gebrakan yang bagus untuk membuka wacana berpikir orang-orang, bahwa anak Seni Rupa kerjanya bukan hanya nongkrong dan bercanda ria. Tetapi di balik obrolan itu bisa memunculkan satu karya yang spektakuler.

Rencana Ke Depan

Menurut rencana, PROJECT_OR akan diadakan setiap dua bulan sekali. Diharapkan pameran ini menjadi ajang berekspresi dan direspon baik oleh semua kalangan.  MG, yang mengaku ‘tukang kompor’ PROJECT_OR, mengatakan, “Gue pikir ini bukan cuma buat anak SR doang. Nantinya ini bisa menjadi sarana pembelajaran bagi teman-teman jurusan yang lainnya.”

Sebagai langkah awal, program ini digarap sendiri oleh panitia dan mahasiswa jurusan Seni Rupa, tanpa campur tangan birokrat maupun pihak  luar. “Kita mau approve dulu, mempresentasikan  ke mereka, nih kaya begini karya kita, baru berikutnya kita coba mengajak mereka,” terang Arif, ketika ditanya soal kontribusi dari pihak jurusan. Dana yang digunakan pun dari hasil iuran bersama mahasiswa jurusan Seni Rupa sebanyak dua kali. Pada iuran pertama, mereka yang menyumbang diberi surat. Isinya bahwa dana tersebut digunakan untuk membantu keempat teman mereka yang mau mempresentasikan karyanya pada PROJECT-OR.

Pameran yang bertemakan ‘Rasain Nich Seni’ ini, tentunya berbeda dengan pameran seni seperti biasanya. Sebab di sini apresiator bisa merasakan seni dengan melihat, mendengar, mencium, meraba dan mengecapnya.

*  Tulisan ini pernah dimuat dalam rubrik lapsus(laporan khusus) 
   Buletin Inkam Transformasi Edisi 2


LOOKING, HEARING, TOUCHED, SMELLING AND FEELING ARTS *

Qurotul Aini Mahmudah

A human figure standing around the stale food and foul-smelling. He tried to get away from the stench that he had to keep breathing. But whatever the power, his mouth was silenced and his body tied to a strong enough chain.

The human figure is a person who often commits sin. He forgets a duty which he thinks is trivial but very vital. It is said that, according to the story, he is a greedy human being. He instantly annexed the food he saw, no matter halal or haram, and without preceding reading prayer even basmallah-this is illustrated with lafaz basmallah emblazoned on the wall.

 The figures described above are the works of Sukarna Praja, a student majoring in Fine Arts class of 2002. His moral message, people who forget to pray will be wretched. "In accordance with the theme 'Rasain Nich Seni', I try to show this human figure," said Sukarna.

In addition to Sukarna there are still three people featuring his work, namely Murki Azis Fikri, Lutfi Sabdakir and Ririred Day. The four artists appreciate, showing the public about the other side of art-'the art '. Their performance is part of an exhibition titled PROJECT_OR held at the FBS Fine Arts Exchange, January 25-28.

According to Arif Rahman, Chief Executive, this exhibition departs from the idea of ​​Riri who wants to create works that can be enjoyed by the layman-with the cake. The idea is then followed by a routine dialogue held 2 times a week. Finally comes the idea that essentially introduces to the public that the art can be felt by the layman. This PROJECT_OR name also has a unique meaning like unique art. "At first we did not know that it was actually PROJECT_OR or what. We just have a basic idea, "said Arif.

Art is something beautiful, but in general people just enjoy the beauty of it by seeing or listening to it. But PROJECT_OR shows something different. One of them is Riri's work. He made a human statue wearing a bikini named Rara. The statue is made from foodstuffs such as chocolate, candies, wafers and sponges. Visitors can enjoy the artwork by looking, touching, kissing and even eating it.

The atmosphere of the exhibition at the Art Exchange is quite crowded by visitors. At the front stood a figure of a human statue locked in a prison with his head bowed and his hand grasping a trellis. In his ear is attached airphone that sounds natural sounds. According to Murki, the student who created the work, the figure of the statue is a form of visualization of the solitude, solitude and loneliness that must have been felt by every human being.

Unlike Lutfi Dzakir. Students majoring in Visual Arts who are proficient in graphic design create a mixed media installation with video art about cooking eggs; Initially decorated Easter eggs are then broken down and diceplok, be fried eggs. The process is recorded and played back.

Though not quite a hundred percent successful-because it's only crowded at the opening and on the following days it's quite legend-it's a great buzz to unravel people's thinking, that the art of Fine works is not just hanging out and joking. But behind the chat can bring up a spectacular work.

Future plan

According to plan, PROJECT_OR will be held every two months. This exhibition is expected to be a place of expression and responded well by all circles. MG, who claimed to be a PROJECT_OR cooker, said, "I think this is not just for SR children. Later this could be a means of learning for friends of other majors. "

As a first step, this program is worked on by the committee and students of the Department of Fine Arts, without the intervention of bureaucrats or outsiders. "We want to approve first, presenting to them, this is rich nih our work, the next we try to invite them," explained Arif, when asked about the contribution of the department. The funds used were from the contributions with students majoring in Fine Art twice. At the first fee, those who donate are given a letter. It contained that the funds were used to help their four friends who would present their work to PROJECT-OR.

The exhibition themed 'Rasain Nich Seni' is, of course, different from the usual art exhibition. Because here the appreciator can feel the art by seeing, hearing, kissing, touching and tasting.

* This paper has been published in the lapsus section (special report) Inkam 
  Transformation Bulletin 2nd Edition

Project_OR #2 Bad News

Waktu
3-6 Mei 2005
Tempat 
Ruang Pamer PSB Gedung C Lantai 1 Kampus A UNJ

Waktu :
30 Januari - 2 Feburari 2006
Tempat : 
Gd. F Seni Rupa UNJ

Diskusi : 
Grafitti oh Grafitti ( 1 feb 2006)

Pameris :
Aan S
Arief 'Nganga' Darmawan
Fadli Pale
Hari Otoy
Jeany
M Yakub

Project_OR #3 Messages Not Sent

Selamat datang diketidak mengertian.....

Scroll down for English

Winanda Suciyadi   

Tema Project_or yang diberi judul Message Not Sent...! kali ini membahas permasalahan kesalahpahamaman/salahpenafsiran/ke-absurd-an pesan (informasi) yang dikirim/dibuat kepada penerima pesan. Informasi yang sengaja dikomunikasikan oleh pembuat pesan untuk memenuhi kebutuhan penerima pesan. Tema tersebut terangkat kepermukaan merupakan hasil kesimpulan dari diskusi yang dilakukan oleh para peserta dengan fasilitator. Kesimpangsiuran informasi yang terus  menawarkan berjuta pesona itulah yang membuat tema tersebut terasa menarik untuk dibahas.

Anda boleh mengakuinya atau tidak, jika kita sadari hampir disetiap acara yang ada ditelevisi menjamur dengan berbagai macam acara berita dan infotainment. Mulai dari liputan berita yang menyiarkan masalah kriminal, terorisme, pornografi  sampai membahas masalah dapur para selebritis. Sangat disayangkan banyak dari berita tersebut tidak memperhatikan kapan baiknya jam tayang acara tersebut disiarkan, bahkan tidak jarang berita yang ditayangkan hanya mengulang-ngulang dari satu infotainment ke infotainment yang lain. Seakan-akan pemirsa sengaja didoktrin untuk mengkonsumsi berita tersebut. Mungkin bukanlah masalah yang cukup besar jika pemirsa yang menonton acara tersebut cukup pandai untuk menyaring tontonan yang ada, bagaimana jika yang menonton acara tersebut adalah anak-anak yang kebetulan tidak ada orang tua yang membimbing mereka pada saat itu.

Coba kita perhatikan sekali lagi, berapa banyak jumlah infotainment dan acara sejenis yang tersaji dilayar kaca anda. Berapa banyak film layar kaca dan sinetron yang tampil setiap harinya belum lagi sisipan iklan yang terus hadir disela-sela acara tersebut, sekurangnya ada sekitar 20-30 jenis produk yang diiklankan disetiap jamnya dalam satu stasiun televisi. Televisi merupakan salah satu media informasi dari banyak media lainnya (radio, internet, koran, majalah, dll), dapatkah anda bayangkan banjirnya informasi yang terus mengalir dihadapan anda setiap harinya.

Sebuah informasi tentu sarat dengan pesan yang dibawanya baik itu tersirat segala informasi/menawarkan berbagai macam produksi/hingga mentransformasikan maupun tersurat. Berbagai macam citraan hadir silih berganti dengan kecepatan yang tak terhingga, menyuguhkan idiologi tertentu, merambah disetiap sisi kehidupan keseharian kita yang kehadirannya dirasakan begitu menggoda dengan imaji citraan yang dibawanya, melenggak-lenggok dengan bebasnya merayu siapapun yang bersentuhan dengannya.

Masyarakat kita saat ini begitu terlena dengan kata kebebasan; kebebasan berekspresi, kebebasan pers, kebebasan beridiologi, kebebasan bersuara, komunikasi bebas, pasar bebas, seks bebas. Keterbukaan dan kebebasan menuntut segala lingkup kehidupan masyarakat yang serba transparan, tidak jarang kebebasan yang ada dimanfaatkan oleh pihak–pihak tertentu untuk mencapai tujuannya. Lingkup global kehidupan masyarakat yang transparan telah mengaburkan batasan-batasan sosial yang ada, kategori sosial, dan identitas sosial. Misalnya, batasan sosial antara anak-anak dengan dunia orang dewasa lenyap ditangan majalah porno, bluefilm, atau cyberporn. Dengan menggunakan dalih kebebasan berekspresi, batasan antara pornografi dan estetika menjadi bias. Perihal inilah yang sedang hangat dibicarakan saat ini. Perdebatan antara pornografi dan pornoaksi terus menjadi berita yang hangat sejalan dengan RUU mengenai pornografi dan pornoaksi yang sedang disusun oleh pemerintah.    

Masuknya era pasar bebas mengakibatkan berlimpahnya tawaran barang-barang produksi. Iklan-iklan komersial bermunculan tanpa henti-hentinya, menggoda dengan pesona citraannya yang terus hadir menawarkan berbagai produk dengan inovasi-inovasi terbaru, berharap mampu menjadi solusi setiap permasalah yang dialami oleh masyarakat. Produk pemutih dan pelangsing tubuh berperan lebih efektif dalam membangkitkan kepercayaan diri wanita dibandingkan dengan terapi psikologi dan kursus kepribadian  manapun. Telepon genggam kini tidak hanya berfungsi sebagai media komunikasi melainkan juga mampu menaikkan prestise bagi beberapa kalangan tertentu.

Banyaknya pilihan media komunikasi yang serba transparan, memberikan ruang kebebasan untuk mengetahui segala informasi yang sedang berkembang. Pesatnya perkembangan teknologi komunikasi memudahkan kita mendapatkan informasi yang dibutuhkan. Kita dapat menyaksikan pertandingan sepak bola secara langsung, apa yang sedang terjadi dilapangan kita dapat saksikan tiap detiknya tanpa takut tertinggal moment penting pada pertandingan tersebut. Kita dapat bertransaksi/berbelanja keperluan yang diinginkan tanpa perlu lagi datang jauh–jauh ke toko tersebut. Bahkan kita mampu menerawang/melihat perilaku dan kebudayaan bangsa lain yang sedang trend, dari model rambut, fashion, performance, sampai ideologi. Setiap informasi memiliki pesona citraan dan sensasinya sendiri. Keterpesonaan terhadap citraan inilah yang sering membuai diri kita, membujuk dengan halusnya membuat kita ingin mencoba dan mengikuti hingga larut dengannya.

Cepatnya akselerasi pergantian informasi yanng timbul mengakibatkan hilangnya waktu yang tersisa. Tak ada lagi waktu untuk menyaring gencarnya gempuran informasi, tak ada lagi waktu untuk merenung, merefleksi, dan memaknai. Maka wajar jika banyak masyarakat kita yang menelan bulat-bulat setiap trend yang datang. Besarnya upaya seseorang untuk selalu mengikuti trend dalam pencarian identitas sebagai ciri pribadi justru hanya membiaskan identitas itu sendiri. Karena yang akan terjadi bukanlah memunculkan ciri identitas personal melainkan penyeragaman identitas, dan yang paling mengenaskan disebabkan ketakutan akan kemungkinan adanya penolakan dari lingkungan, kita dipaksa menyembunyikan diri dibalik topeng penyeragaman.

Krisis identitas yang dialami oleh masyarakat konsumer terutama dikota–kota besar membuat mereka mengambil jarak dari lingkungannya. Perasaan yang diliputi oleh rasa kesepian dan kesendirian membuat mereka asyik dengan dunianya sendiri, tanpa peduli sedikitpun dengan lingkungannya.  Ketika pembunuhan, pembantaian, pengeboman bukan lagi menjadi peristiwa yang mengerikan/menakutkan/mengharukan melainkan hanya dianggap sebagai peristiwa biasa. Kita masih dapat menikmati sarapan dengan nikmatnya sembari menyaksikan berita yang menyuguhkan peristiwa bom bunuh diri yang dilakukan oleh teroris. Hal tersebut merupakan akibat dari tenggelamnya mereka dalam kegairahan dan keterpesonaan dunia konsumer. Segala sesuatunya dilakukan hanya untuk memuaskan hasrat pemenuhan kebutuhan/kesenangan pribadi yang lambat laun mengikis rasa empati yang dimilikinya.

Percepatan perputaran arus informasi telah membantu manusia mempersingkat jarak dan waktu dalam memenuhi kebutuhannya. Dengan segala kemudahan yang ada, manusia tidak hanya menikmati kebebasan informasi yang datang. Melainkan berlomba-lomba mencicipi berbagai trend yang berkembang. Segala upaya dilakukan demi meningkatkan kualitas hidupnya. Setidaknya itu yang diharapkan, sehingga ia tidak segan mentransformasikan dirinya menjadi pribadi yang sama sekali berbeda, hanya demi mengikuti trend. Tapi  yang kemudian terjadi adalah sebaliknya, sempitnya jarak dan waktu yang tersedia tidak lagi cukup memberikan ruang untuk berfikir/menyimak/ merenungkan setiap informasi yang datang. Sehingga yang diterima tidak lebih dari sekedar kehampaan dan kekosongan.

Kita tidak sempat lagi mengambil nilai-nilai yang terkandung dalam informasi tersebut. Ketidak utuhan dalam menerima pesan membuatnya hanya mampu menyentuh wilayah permukaan informasi. Sekedar tergiur dengan pesona dan sensasi informasi tersebut. Ketika segala sesuatunya telah menjadi transparan kita malah tidak dapat lagi melihat nilai-nilai yang tersembunyi dibalik citraan sebuah objek selain kehampaan nilai. Hilangnya batasan-batasan sosial membiaskan norma-norma dalam masyarakat, mengikis nilai-nilai moril dan kesusilaan.

Kini kita tidak dapat lagi menghindar dari gelombang informasi yang datang dan pergi silih berganti, yang dapat kita lakukan hanyalah mencoba mengambil jarak sesaat dengan menyisihkan sedikit waktu untuk merenungkan setiap pesan yang datang, merefleksikan kembali apa yang telah kita lalui. Karena siap ataupun tidak mereka akan terus menghujani kita dengan segala pesonanya.

Welcome to the lack of understanding .....

Winanda Suciyadi

Project_or theme entitled Message Not Sent ...! This time discusses the problem of misunderstanding / misinterpretation / absurdess of the message (information) sent / made to the recipient of the message. Information deliberately communicated by the message maker to meet the needs of the message recipient. The theme raised surface is the result of the conclusions of the discussions conducted by the participants with the facilitator. The confusion of information that continues to offer a million charms that make the theme feel interesting to discuss.

You can admit it or not, if we realize almost every event that is on television to mushroom with various news and infotainment events. Starting from news coverage that broadcast the problem of crime, terrorism, pornography to discuss the problem of the kitchen of the celebrities. It is unfortunate that many of the news did not pay attention to when the show aired broadcast time, not even rarely the news that aired only repeats from one infotainment to another infotainment. It is as if the viewers are deliberately indoctrinated to consume the news. Probably not a big deal if the viewers watching the show were clever enough to filter out the existing spectacle, what if the viewers were kids who happened to have no parents guiding them at the time.

Let us look again, how much the number of infotainment and similar events presented on your glass screen. How many screen movies and soap operas that appear every day not to mention ad inserts that continue to be present on the sidelines of the event, at least there are about 20-30 types of products advertised in every hour in a television station. Television is one of the media information of many other media (radio, internet, newspapers, magazines, etc.), can you imagine the flood of information that continues to flow in front of you every day.

An information is loaded with the message it carries, it implies all information / offers a wide range of production / up to transform or explicit. A variety of imagery comes alternating with infinite speed, presenting a certain idiology, penetrating on every side of our daily life whose presence is felt so seductively by the image of the image it carries, swinging freely to woo anyone in touch with it.

Our society is now so absorbed by the word freedom; Freedom of expression, freedom of the press, freedom of berylology, freedom of speech, free communication, free market, free sex. Openness and freedom demand all spheres of society that are completely transparent, not infrequently the freedoms are utilized by certain parties to achieve its goals. The global scope of transparent community life has obscured the existing social boundaries, social categories, and social identities. For example, social barriers between children and the adult world disappear in the hands of porno, bluefilm, or cyberporn magazines. By using the pretext of freedom of expression, the boundary between pornography and aesthetics becomes biased. This is what is being discussed at the moment. The debate between pornography and porno-action continues to be a hot news in line with the bill on pornography and porno-action being drafted by the government.

The entry of the free market era resulted in an abundance of offerings of production goods. Commercial commercials are popping up incessantly, teasing with its ever-growing imagery of offering products with the latest innovations, hoping to be the solution to every problem that people experience. Bleaching and body slimming products play a more effective role in generating female confidence than any psychological therapy and personality course. Mobile phones now not only serve as a medium of communication but also able to raise the prestige for certain circles.

The wide selection of communication media is completely transparent, giving space freedom to know all the information that is developing. The rapid development of communication technology makes it easier for us to get the required information. We can watch live football games, what is happening in the field we can watch every second without fear of being left behind important moments in the game. We can transact / shop the desired needs without the need to come all the way to the store. In fact we are able to observe / see the behavior and culture of other nations that are the trend, from hair, fashion, performance, to ideology. Each information has its own imagery and sensation. This fascination with images is what often lulls us, persuading it with its subtle make us want to try and follow up

 

Waktu :
30 Januari - 2 Feburari 2006
Tempat : 
Gd. F Seni Rupa UNJ

Diskusi : 
Grafitti oh Grafitti ( 1 feb 2006)

Pameris :
Aan S
Arief 'Nganga' Darmawan
Fadli Pale
Hari Otoy
Jeany
M Yakub

Project_OR #3 Messages Not Sent

Selamat datang diketidak mengertian.....

Scroll down for English

Winanda Suciyadi   

Tema Project_or yang diberi judul Message Not Sent...! kali ini membahas permasalahan kesalahpahamaman/salahpenafsiran/ke-absurd-an pesan (informasi) yang dikirim/dibuat kepada penerima pesan. Informasi yang sengaja dikomunikasikan oleh pembuat pesan untuk memenuhi kebutuhan penerima pesan. Tema tersebut terangkat kepermukaan merupakan hasil kesimpulan dari diskusi yang dilakukan oleh para peserta dengan fasilitator. Kesimpangsiuran informasi yang terus  menawarkan berjuta pesona itulah yang membuat tema tersebut terasa menarik untuk dibahas.

Anda boleh mengakuinya atau tidak, jika kita sadari hampir disetiap acara yang ada ditelevisi menjamur dengan berbagai macam acara berita dan infotainment. Mulai dari liputan berita yang menyiarkan masalah kriminal, terorisme, pornografi  sampai membahas masalah dapur para selebritis. Sangat disayangkan banyak dari berita tersebut tidak memperhatikan kapan baiknya jam tayang acara tersebut disiarkan, bahkan tidak jarang berita yang ditayangkan hanya mengulang-ngulang dari satu infotainment ke infotainment yang lain. Seakan-akan pemirsa sengaja didoktrin untuk mengkonsumsi berita tersebut. Mungkin bukanlah masalah yang cukup besar jika pemirsa yang menonton acara tersebut cukup pandai untuk menyaring tontonan yang ada, bagaimana jika yang menonton acara tersebut adalah anak-anak yang kebetulan tidak ada orang tua yang membimbing mereka pada saat itu.

Coba kita perhatikan sekali lagi, berapa banyak jumlah infotainment dan acara sejenis yang tersaji dilayar kaca anda. Berapa banyak film layar kaca dan sinetron yang tampil setiap harinya belum lagi sisipan iklan yang terus hadir disela-sela acara tersebut, sekurangnya ada sekitar 20-30 jenis produk yang diiklankan disetiap jamnya dalam satu stasiun televisi. Televisi merupakan salah satu media informasi dari banyak media lainnya (radio, internet, koran, majalah, dll), dapatkah anda bayangkan banjirnya informasi yang terus mengalir dihadapan anda setiap harinya.

Sebuah informasi tentu sarat dengan pesan yang dibawanya baik itu tersirat segala informasi/menawarkan berbagai macam produksi/hingga mentransformasikan maupun tersurat. Berbagai macam citraan hadir silih berganti dengan kecepatan yang tak terhingga, menyuguhkan idiologi tertentu, merambah disetiap sisi kehidupan keseharian kita yang kehadirannya dirasakan begitu menggoda dengan imaji citraan yang dibawanya, melenggak-lenggok dengan bebasnya merayu siapapun yang bersentuhan dengannya.

Masyarakat kita saat ini begitu terlena dengan kata kebebasan; kebebasan berekspresi, kebebasan pers, kebebasan beridiologi, kebebasan bersuara, komunikasi bebas, pasar bebas, seks bebas. Keterbukaan dan kebebasan menuntut segala lingkup kehidupan masyarakat yang serba transparan, tidak jarang kebebasan yang ada dimanfaatkan oleh pihak–pihak tertentu untuk mencapai tujuannya. Lingkup global kehidupan masyarakat yang transparan telah mengaburkan batasan-batasan sosial yang ada, kategori sosial, dan identitas sosial. Misalnya, batasan sosial antara anak-anak dengan dunia orang dewasa lenyap ditangan majalah porno, bluefilm, atau cyberporn. Dengan menggunakan dalih kebebasan berekspresi, batasan antara pornografi dan estetika menjadi bias. Perihal inilah yang sedang hangat dibicarakan saat ini. Perdebatan antara pornografi dan pornoaksi terus menjadi berita yang hangat sejalan dengan RUU mengenai pornografi dan pornoaksi yang sedang disusun oleh pemerintah.    

Masuknya era pasar bebas mengakibatkan berlimpahnya tawaran barang-barang produksi. Iklan-iklan komersial bermunculan tanpa henti-hentinya, menggoda dengan pesona citraannya yang terus hadir menawarkan berbagai produk dengan inovasi-inovasi terbaru, berharap mampu menjadi solusi setiap permasalah yang dialami oleh masyarakat. Produk pemutih dan pelangsing tubuh berperan lebih efektif dalam membangkitkan kepercayaan diri wanita dibandingkan dengan terapi psikologi dan kursus kepribadian  manapun. Telepon genggam kini tidak hanya berfungsi sebagai media komunikasi melainkan juga mampu menaikkan prestise bagi beberapa kalangan tertentu.

Banyaknya pilihan media komunikasi yang serba transparan, memberikan ruang kebebasan untuk mengetahui segala informasi yang sedang berkembang. Pesatnya perkembangan teknologi komunikasi memudahkan kita mendapatkan informasi yang dibutuhkan. Kita dapat menyaksikan pertandingan sepak bola secara langsung, apa yang sedang terjadi dilapangan kita dapat saksikan tiap detiknya tanpa takut tertinggal moment penting pada pertandingan tersebut. Kita dapat bertransaksi/berbelanja keperluan yang diinginkan tanpa perlu lagi datang jauh–jauh ke toko tersebut. Bahkan kita mampu menerawang/melihat perilaku dan kebudayaan bangsa lain yang sedang trend, dari model rambut, fashion, performance, sampai ideologi. Setiap informasi memiliki pesona citraan dan sensasinya sendiri. Keterpesonaan terhadap citraan inilah yang sering membuai diri kita, membujuk dengan halusnya membuat kita ingin mencoba dan mengikuti hingga larut dengannya.

Cepatnya akselerasi pergantian informasi yanng timbul mengakibatkan hilangnya waktu yang tersisa. Tak ada lagi waktu untuk menyaring gencarnya gempuran informasi, tak ada lagi waktu untuk merenung, merefleksi, dan memaknai. Maka wajar jika banyak masyarakat kita yang menelan bulat-bulat setiap trend yang datang. Besarnya upaya seseorang untuk selalu mengikuti trend dalam pencarian identitas sebagai ciri pribadi justru hanya membiaskan identitas itu sendiri. Karena yang akan terjadi bukanlah memunculkan ciri identitas personal melainkan penyeragaman identitas, dan yang paling mengenaskan disebabkan ketakutan akan kemungkinan adanya penolakan dari lingkungan, kita dipaksa menyembunyikan diri dibalik topeng penyeragaman.

Krisis identitas yang dialami oleh masyarakat konsumer terutama dikota–kota besar membuat mereka mengambil jarak dari lingkungannya. Perasaan yang diliputi oleh rasa kesepian dan kesendirian membuat mereka asyik dengan dunianya sendiri, tanpa peduli sedikitpun dengan lingkungannya.  Ketika pembunuhan, pembantaian, pengeboman bukan lagi menjadi peristiwa yang mengerikan/menakutkan/mengharukan melainkan hanya dianggap sebagai peristiwa biasa. Kita masih dapat menikmati sarapan dengan nikmatnya sembari menyaksikan berita yang menyuguhkan peristiwa bom bunuh diri yang dilakukan oleh teroris. Hal tersebut merupakan akibat dari tenggelamnya mereka dalam kegairahan dan keterpesonaan dunia konsumer. Segala sesuatunya dilakukan hanya untuk memuaskan hasrat pemenuhan kebutuhan/kesenangan pribadi yang lambat laun mengikis rasa empati yang dimilikinya.

Percepatan perputaran arus informasi telah membantu manusia mempersingkat jarak dan waktu dalam memenuhi kebutuhannya. Dengan segala kemudahan yang ada, manusia tidak hanya menikmati kebebasan informasi yang datang. Melainkan berlomba-lomba mencicipi berbagai trend yang berkembang. Segala upaya dilakukan demi meningkatkan kualitas hidupnya. Setidaknya itu yang diharapkan, sehingga ia tidak segan mentransformasikan dirinya menjadi pribadi yang sama sekali berbeda, hanya demi mengikuti trend. Tapi  yang kemudian terjadi adalah sebaliknya, sempitnya jarak dan waktu yang tersedia tidak lagi cukup memberikan ruang untuk berfikir/menyimak/ merenungkan setiap informasi yang datang. Sehingga yang diterima tidak lebih dari sekedar kehampaan dan kekosongan.

Kita tidak sempat lagi mengambil nilai-nilai yang terkandung dalam informasi tersebut. Ketidak utuhan dalam menerima pesan membuatnya hanya mampu menyentuh wilayah permukaan informasi. Sekedar tergiur dengan pesona dan sensasi informasi tersebut. Ketika segala sesuatunya telah menjadi transparan kita malah tidak dapat lagi melihat nilai-nilai yang tersembunyi dibalik citraan sebuah objek selain kehampaan nilai. Hilangnya batasan-batasan sosial membiaskan norma-norma dalam masyarakat, mengikis nilai-nilai moril dan kesusilaan.

Kini kita tidak dapat lagi menghindar dari gelombang informasi yang datang dan pergi silih berganti, yang dapat kita lakukan hanyalah mencoba mengambil jarak sesaat dengan menyisihkan sedikit waktu untuk merenungkan setiap pesan yang datang, merefleksikan kembali apa yang telah kita lalui. Karena siap ataupun tidak mereka akan terus menghujani kita dengan segala pesonanya.

Welcome to the lack of understanding .....

Winanda Suciyadi

Project_or theme entitled Message Not Sent ...! This time discusses the problem of misunderstanding / misinterpretation / absurdess of the message (information) sent / made to the recipient of the message. Information deliberately communicated by the message maker to meet the needs of the message recipient. The theme raised surface is the result of the conclusions of the discussions conducted by the participants with the facilitator. The confusion of information that continues to offer a million charms that make the theme feel interesting to discuss.

You can admit it or not, if we realize almost every event that is on television to mushroom with various news and infotainment events. Starting from news coverage that broadcast the problem of crime, terrorism, pornography to discuss the problem of the kitchen of the celebrities. It is unfortunate that many of the news did not pay attention to when the show aired broadcast time, not even rarely the news that aired only repeats from one infotainment to another infotainment. It is as if the viewers are deliberately indoctrinated to consume the news. Probably not a big deal if the viewers watching the show were clever enough to filter out the existing spectacle, what if the viewers were kids who happened to have no parents guiding them at the time.

Let us look again, how much the number of infotainment and similar events presented on your glass screen. How many screen movies and soap operas that appear every day not to mention ad inserts that continue to be present on the sidelines of the event, at least there are about 20-30 types of products advertised in every hour in a television station. Television is one of the media information of many other media (radio, internet, newspapers, magazines, etc.), can you imagine the flood of information that continues to flow in front of you every day.

An information is loaded with the message it carries, it implies all information / offers a wide range of production / up to transform or explicit. A variety of imagery comes alternating with infinite speed, presenting a certain idiology, penetrating on every side of our daily life whose presence is felt so seductively by the image of the image it carries, swinging freely to woo anyone in touch with it.

Our society is now so absorbed by the word freedom; Freedom of expression, freedom of the press, freedom of berylology, freedom of speech, free communication, free market, free sex. Openness and freedom demand all spheres of society that are completely transparent, not infrequently the freedoms are utilized by certain parties to achieve its goals. The global scope of transparent community life has obscured the existing social boundaries, social categories, and social identities. For example, social barriers between children and the adult world disappear in the hands of porno, bluefilm, or cyberporn magazines. By using the pretext of freedom of expression, the boundary between pornography and aesthetics becomes biased. This is what is being discussed at the moment. The debate between pornography and porno-action continues to be a hot news in line with the bill on pornography and porno-action being drafted by the government.

The entry of the free market era resulted in an abundance of offerings of production goods. Commercial commercials are popping up incessantly, teasing with its ever-growing imagery of offering products with the latest innovations, hoping to be the solution to every problem that people experience. Bleaching and body slimming products play a more effective role in generating female confidence than any psychological therapy and personality course. Mobile phones now not only serve as a medium of communication but also able to raise the prestige for certain circles.

The wide selection of communication media is completely transparent, giving space freedom to know all the information that is developing. The rapid development of communication technology makes it easier for us to get the required information. We can watch live football games, what is happening in the field we can watch every second without fear of being left behind important moments in the game. We can transact / shop the desired needs without the need to come all the way to the store. In fact we are able to observe / see the behavior and culture of other nations that are the trend, from hair, fashion, performance, to ideology. Each information has its own imagery and sensation. This fascination with images is what often lulls us, persuading it with its subtle make us want to try and follow up

 

Times  
25 November – 3 Desember 2006

Venue
ruangrupa, Jakarta

Participants :
Rino Mafinda
Arief Widiarso
Andika Hadie P
Sukarno Manggalatama
Ardhi Saputro
Fidealia Octavirani

Project_OR #6 Saturday Night Fever

Scroll down for English

Dalam program pameran ini, ruangrupa mengundang Project_or untuk mempresentasikan project terbaru mereka, “Saturday Night Fever”. Project ini dikerjakan secara intens selama tiga minggu. Lima seniman muda dari Universitas Negeri Jakarta yang terlibat dalam project ini memberikan interpretasinya masing-masing tentang “malam minggu”. Mereka mencoba merelasikan pengalaman individual, situs spesifik, dan hubungan antara kota dengan malam minggu.
Karya yang dipresentasikan terdiri dari photography, video, dan karya interaktif.

In this exhibition program, ruangrupa invited PROJECT_OR to present their recent project “Saturday Night Fever”. This project intensively developed in three weeks by five young artists from Universitas Negeri Jakarta. They give their own interpretation on the theme “Saturday night” and trying to make a relation with personal experiences, specific sites, and the relation between the city with saturday night. 

Sang Artis (Berstatus Mahasiswa)

Scroll down for English

Yudhi Pramudya

          Mencari masalah bukan perbuatan yang bagus. Kebanyakan orang justru menghindari masalah, bahkan banyak juga yang lari dari masalah. Namun dalam konteks berkesenian mencari masalah merupakan perkara yang penting. Perhatikan bagaimana pelukis Sudjojono mencari masalah. Pada zamannya para seniman banyak melukis keindahan alam Indonesia, kemolekan gadis-gadisnya, serta eksotisme tradisi, yang dikenal pada saat itu sebagai mooi indie. Tapi Sudjojono beda, ia justru mencari masalah, baginya yang demikian terlalu ‘norak’, klise, dan basi untuk dijadikan sebagai tema seni lukis. Sudjojono menemukan suatu masalah, yaitu nasionalisme Indonesia. Singkat cerita berkat kepiawaiannya mencari masalah Sudjojono jadi terkenal, namanya tercatat pada buku sejarah seni rupa Indonesia.

          Masalah atau subject matter merupakan ruh dari suatu karya. Masalah ibarat cermin yang akan merefleksikan isi kepala dan hati artis. Pada umumnya artis yang berhasil mampu melihat suatu hal dengan peka, tajam, dalam, dan dari berbagai sudut pandang. Kemampuan seperti ini bisa dimiliki oleh siapapun, termasuk artis-artis muda. Namun disayangkan kebanyakan artis muda mengikuti tren. Mereka melihat mainstream, padahal mainstream tersebut bukan dunia mereka. Pada tahun 90-an akhir dan 2000 awal berlangsung kompetisi Phillip Morris Indonesian Arts Awards. Kompetisi ini termasuk yang terbesar pada masa itu, nominator yang terpilih akan dibawa ketingkat Asia, nominator Asia melaju ke tingkat dunia. Singkatnya kompetisi itu sangat bergengsi, dan tentu saja menjadi mainstream. Alhasil seting berkesenian para artis muda saat itu menjadi Phillip Morris minded. Dari tema, media, gaya, dan lain sebagainya merujuk kepada karya-karya yang ada pada kompetisi tersebut.

          Sebenarnya artis muda punya potensi yang besar. Walaupun pengalamannya  sedikit, namun mereka punya semangat yang besar, terutama semangat mencari dan membuat masalah. Contohnya Semsar Siahaan, ketika masih kuliah ia membakar patung dosennya,  Sunaryo; atau Mulyono, mahasiswa Seni Lukis tingkat akhir Institut Seni Indonesia yang ketika sidang dan pameran tugas akhir menampilkan Kesenian Unit Desa, karya instalasi yang jauh dari tertib seni lukis; dan masih banyak yang lain. Singkatnya perkara mencari dan membuat masalah harus terus digali, dikembangkan, dibudayakan, dsb.

          Problem selanjutnya adalah eksekusi karya. Masalah ini menyangkut kapasitas teknis artis dan hal ini merupakan problem utama para artis muda. Sebab kapasitas teknis erat kaitannya dengan pengalaman atau jam terbang dalam berkarya. Banyak artis punya ide brilian, tajam, dan dalam, namun eksekusinya sangat lemah, kacrut. Seni rupa kontemporer yang mementingkan aspek konseptual terkadang dimaknai oleh artis muda dengan menafikan kualitas estetik karya. Garapanya sembarang, medianya asal-asalan. Eksplorasi teknis tidak lagi diperhitungkan, mereka terlalu fokus pada ide. Padahal ide harus diterjemahkan secara visual melalui suatu garapan teknis (media, alat, gaya, dsb).

          Barangkali metode membuat 1.000 sketsa tiap semester perlu dibudayakan. Sebab sketsa merupakan dasar dari setiap ide visual. Sayangnya Jurusan Seni Rupa UNJ mengabaikan hal itu, mata kuliah sketsa sebagai “ibu seni rupa” telah dihapuskan dari kurikulum sejak angkatan 2004. Selain sketsa, kuliah bahan dan proses juga menempati peran yang penting. Rendahnya kualitas karya para artis muda adalah dalam hal ini, mereka menyepelekan masalah bahan dan proses, padahal dalam terma seni posmodern bahan atau media memiliki kandungan pesan tersendiri. Media tidak hanya sebagai jembatan atau penerjemah pesan, melainkan media adalah pesan itu sendiri. Lihat saja bagaimana kesungguhan Tisna Sanjaya dalam mengolah media. Tisna sangat perhatian dalam masalah grafis, maka pada media itu ia mencari berbagai kemungkinan kreatif; etsa, jengkol, sepak bola, darah kambing kurban, dan terakhir pada CP Bienalle menampilkan grafis dari abu kayu bakar. Atau Krisna Murti yang sangat concern dengan multimedia dan video art. Singkatnya, bagaimana ide diterjemahkan melalui suatu media dan proses merupakan perkara yang penting.

          Problem selanjutnya bagi artis muda adalah peluang. Banyak diantara artis muda yang sudah oke dari segi ide maupun teknis, nggak kalah sama artis-artis yang muncul di Bienalle, Trienalle, nominator awards, koran, majalah, dsb. Namun tetap saja nama dan karya mereka tidak terangkat, terkenal sebatas lingkungan kampus atau komunitas.

          Sebenarnya banyak faktor yang menyebabkan hal itu terjadi. Salah satunya adalah pendidikan formal seni rupa sangat sedikit menyinggung manajemen seni. Mahasiswa seni rupa layaknya petapa yang sedang menuntut ilmu di atas gunung, nggak ngerti dengan apa yang terjadi “ditengah kota”. Mahasiswa seni rupa sebagai artis muda tidak diperkenalkan dengan realitas seni rupa dalam konteks yang lebih luas; networking, infra struktur, dokumentasi karya, tips n trick, pasar, dan lain sebagainya. Bahkan membuat proposal pameran masih gagap.

          Memang Jakarta dalam atmosfer berkesenian Indonesia lebih tepat disebut sebagai etalase ketimbang laboratorium. Artis dari seluruh Indonesia dan luar negeri berharap bisa menunjukan produk seninya di Kota ini. Inilah arus utama berkesenian Jakarta.

          Namun kemungkinan menjadikan Jakarta sebagai laboratorium berkenian tetap terbuka. Beberapa komunitas dan kantong-kantong kreatif telah menjadi inisiator hal ini. Mereka tidak terlalu memusingkan perkara hasil, pameran, dan sejenisnya. Penekanannya terdapat pada proses; berkumpul dari berbagai latar belakang, almamater, disiplin, tingkat ekonomi, budaya, dan lain sebagainya untuk membahas suatu masalah, melahirkan ide, mengolah media, dan bekerja sama. Kerangka kritik yang digunakan tidak sempit, tidak melulu membahas fisik karya. Kritik bergerak lebih jauh menuju pembahasan kultural, proses pematangan kolektif, dan cenderung apresiatif. Dalam kondisi demikian, laboratoratif (maksudnya bersifat laboratorium), maka Jakarta akan menjadi tanah yang subur bagi tumbuhnya artis-artis dashyat!!! Terjadinya hal itu harus dimulai dengan memberi peluang kepada artis muda untuk bereksplorasi, bergerak, bersuara, berteriak, bekerja sama, berproses, yang semuanya dalam kalimat aktif dan kata kerja.

The Artist (Student Status)

Yudhi Pramudya

Finding a problem is not a good deed. Most people just avoid problems, even many who run away from problems. But in the context of art seeking problems is an important matter. Notice how Sudjojono's painter looks for trouble. In his time the artists painted many of Indonesia's natural beauty, the elegance of the girls, and the exoticism of the tradition, known at the time as an indie mooi. But Sudjojono different, he just looking for trouble, for him that is so too 'tacky', cliché, and stale to serve as the theme of painting. Sudjojono found a problem, namely Indonesian nationalism. Short story thanks to his expertise to find the problem Sudjojono so famous, his name was recorded in the history books of Indonesian art.

          Problem or subject matter is the spirit of a work. Problems like mirrors that will reflect the head and heart of the artist. In general, successful artists are able to see things sensitively, sharply, deeply, and from different points of view. This ability can be owned by anyone, including young artists. But unfortunately most young artists follow the trend. They see the mainstream, whereas the mainstream is not their world. In the late 90s and early 2000s the Phillip Morris Indonesian Arts Awards took place. This competition was among the largest at the time, nominated nominees will be brought to Asia, Asian nominees advanced to the world stage. In short the competition is very prestigious, and of course become mainstream. As a result the artist's artistic setting at that time became Phillip Morris minded. From the theme, media, style, and so on refer to the works that exist in the competition.

          Actually young artists have great potential. Although the experience is few, but they have a great spirit, especially the spirit of searching and making trouble. For example Semsar Siahaan, while still in college he burned the statue of his lecturer, Sunaryo; Or Mulyono, Art Institute of Indonesia's final painting student who, when the final session and exhibition show the Village Unit Arts, installation work far from the order of painting; and many more. In short the case of seeking and making problems must be continuously explored, developed, cultivated, and so on.

          The next problem is the execution of the work. This issue concerns the artist's technical capacity and this is a major problem for young artists. Because technical capacity is closely related to experience or flying hours in the work. Many artists have brilliant ideas, sharp, and deep, but the execution is very weak, recruited. Contemporary art that emphasizes the conceptual aspect is sometimes interpreted by young artists by denying the aesthetic quality of the work. Anything is ridiculous, the media is perfunctory. Technical explorations are no longer taken into account, they focus too much on ideas. Though the idea must be translated visually through a technical claim (media, tools, styles, etc.).

          Perhaps the method of making 1,000 sketches per semester needs to be cultivated. Because sketches are the basis of every visual idea. Unfortunately, the Department of Fine Arts UNJ disregarded it, the sketch lesson as "art mum" has been abolished from the curriculum since the 2004 class. In addition to sketches, lectures on materials and processes also occupy an important role. The low quality of the work of young artists is in this case, they underestimate the problem of materials and processes, whereas in terms of postmodern art the material or media has its own message content. Media is not only a bridge or a translator of messages, but the media is the message itself. Just look at how sincere Tisna Sanjaya in processing media. Tisna was very concerned about graphics, so in the media she sought creative possibilities; Etching, jengkol, soccer, sacrificial goat blood, and lastly on CP Bienalle featuring graphics from wood burning ash. Or Krisna Murti who is very concerned with multimedia and video art. In short, how ideas are translated through a medium and a process is an important matter.

          The next problem for young artists is opportunity. Many of the young artists are already okay in terms of ideas and technical, not less the same artists who appeared in Bienalle, Trienalle, nominees awards, newspapers, magazines, etc. But still their names and works are not uplifted, popularly limited to campus or community environment.

          Actually many factors that cause it to happen. One of them is formal art education very little touched on art management. Students of art like a hermit who is studying on a mountain, do not understand what happened "in the middle of the city". Art students as young artists are not introduced to the reality of art in the broader context; Networking, infra structure, documentation works, tips n trick, market, and so forth. Bah

Times  
2006

Venue
National Gallery of Indonesia

Events
Jakarta 32


Project_OR #6 Special Presentation