Mulok Tanah Butuh Buku Ajar

Mulok Tanah Butuh Buku Ajar

Oleh Rianto Irawan*

Di ruang kantor kepala SDN Jatisura 1 Serrum dan JAF bertemu Hafidin. Ia merupakan kepala SDN Jatisura 1. Serrum melanjutkan penelitian mengenai program Kurikulab Masuk Desa (KMD) berupa Mulok Tanah. Hafidin mengatakan Komik Mulok Tanah yang dibuat Amy merupakan bacaan penunjang. Hafidin menganggapkomik sebagai bahan bacaan perlu diperbanyak untuk perpustakaan. Selain Komik Mulok Tanah, Wacil Wahyudi sebagai pendidik dan seniman membuat perangkat pembelajaran berupa dua silabus yang berdasarkan Kurikulum 2013 (kurtilas) dan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Hafidin tertarik dengan silabus berdasarkan kurtilas. Karena silabus yang dibuat banyak menekankan praktik.Silabus ini sesuai dengan semangat kurtilas.

KMD butuh buku bahan ajar agar silabus dapat berjalan. Mulok Tanah dengan bahan ajar yang dibuat dapat mengangkat lokalitas dan lekat dengan kehidupan sehari-hari. Mulok Tanah menjadi pelajaran yang diharapkan mampu menunjang pengajaran di sekolah. Selama ini mulok yang dilakukan di SD Jatisura 1 hanya Bahasa Sunda, Bahasa Inggris, dan Karawitan. Sering sekali sekolah-sekolah memilih bahasa Inggris. Mulok Tanah diharapkan menjadi pilihan dalam pelajaran Seni Budaya dan Prakarya (SBK) di Jatiwangi.

Bagaimana kalau nanti diadakan pameran di sekolah mengenai Mulok Tanah? Hafidin mengatakan di Jatisura 1 pernah mengadakan pameran hasil kerajinan anak-anak. Sepertinya gagasan pameran di sekolah menjadi bagian penting. Kerja kolaboratif melalui Mulok Tanah diharapkan dapat ditampilkan secara pameran yang setiap warga sekitar dapat melihat hasil dari program KMD ini.

Sumber belajar

Kampung Wateskami berkeliling ke kampung ini. Siang mungkin begitu terik, kami pun singgah di  Saung (pendidikan) Ciranggon. Saung ini mengingatkan kembali akan pesan leluhur mengenai tanah dan bercocok tanam. Barangkali "menanam merupakan bentuk perlawanan". Mengingat tanah ini penuh konflik. Melalui jalan kebudayaan dan bercocok tanam warga berbicara tentang hak mereka. Secara kultural ruang pendidikan ini menjadi lab: tanah diyakini sebagai medium belajar. Mereka bercocok tanam dan menghasilkan makanan yang tumbuh dari tanah mereka sendiri. Persis seperti kue jahe dan keripik daun  sawi sendok itu dibuat oleh warganya sendiri. Kampung ini menjadi media belajar yang cocok bagi murid-murid belajar Mulok Tanah. Sebuah Kampung pun menjadi sumber belajar dalam Mulok Tanah.

Iing Solihin merupakan pemilik dari Saung Ciranggon. Iing ingat ketika itu ia sering diajak neneknya ke sawah. Di sawah itu ada hima atau saung. Di saung pula ia melihat orang-orangan sawah atau bebegig. Burung-burung pun enggan merusak padi. Neneknya mengajar kan padanya soal pentingnya menanam. “Menanam soal mencintai,” kata Iing. Serrum mendapatkan cerita itu saat wawancara di Jatiwangi Art Factory (JAF). Iing merupakan sumber belajar Mulok Tanah. Di halaman rumahnya berdiri Saung (Pendidikan) Ciranggon. Saung ini akan menjadi tempat belajar bagi anak SDN Jatiwangi 1. Anak-anak diperkenalkan pentingnya bercocok tanam.

Bicara soal tanah, bercocok tanam merupakan cara mencintai tanah. Dan kebun menjadi perpustakaan anak mengenal tanah dan yang tumbuh di atasnya. Bahkan mengenal yang hidup di dalam tanah itu sendiri: cacing yang membantu menyuburkan tanah. Tak hanya itu, anak-anak juga akan mengenal bagaimana menanam dapat membuatmu membuat makanan dari apa yang kalian tanam. Kripik sawi sendok dan kue jahe adalah salah satunya. Makanan itu bahannya dari apa yang tumbuh di Saung Ciranggon. Di Mulok Tanah ini Iing dan Saung Ciranggon menjadi sumber belajar apresiasi tanah di Jatiwangi.

Hanyaterra

Serrum bertemu dengan Tedi dari Jatiwangi Art Factory (JAF). Kami meminta Hanyaterra grup musik yang dinaunginya sebagai sumber belajar. Mulok Tanah sebagai bahan ajar berbasis lokalitas memerlukan sumber belajar kreatif. Hanyaterra merupakan grup musik yang membuat alat musiknya sendiri. Mereka membuat gitar yang bodinya dari genteng.

Hanyaterra akan mengajarkan anak-anak SDN Jatisura 1 mengenai apresiasi seni di Jatiwangi. Tedi mengatakan Hanyaterra akan masuk ke kelas dan memperkenalkan alat-alat musik. Anak-anak juga akan dibimbing membuat alat musik sampai mereka dapat memainkan musik bersama. Tedi bercerita ia akan mengajarkan anak-anak membuat alat tiup dari tanah. Alat itu bisa digunakan saat praktik alat saat bermusik bersama.

Di Mulok Tanah kegiatan kesenian Jatiwangi seperti musik, sastra, seni rupa menjadi pengantar menarik dalam penanaman nilai budaya lokalitas yang khas dan lekat dengan kehidupan sehari-hari mereka. Hanyaterra adalah sumber belajar dalam perspektif musik. Dari perspektif pendidikan, anak-anak diberikan penjelasan bahwa tanah tak hanya menjadi pengetahuan umum. Tetapi ada juga kreativitas seni yang membawa orang-orang agar lebih menghargai dan mencintai apa yang mereka punya. Dan ini tentunya belum ada di matapelajaran mulok yang mereka pelajari.

Serrum juga berkesempatan ngobrol bersama Dominique Lammli. Ia merupakan seniman sekaligus akademisi dan filsuf. Ia sedang residensi di JAF. Saat presentasi mengenai seni dan daur ulang ia mengajak warga di Blok Pahing Desa Jatisura untuk bercocok tanam. Kerja seni Dominique bisa dikatakan penting bagi Serrum. Karena ia menyentuh ranah pendidikan dan transfer pengetahuan bagaimana orang-orang berkebun melalui daur ulang. Ia mengaku kakeknya merupakan petani. Saat kami bertanya perlukah anak-anak belajar bercocok tanam? Baginya tak hanya bercocok tanam, memasak, membawa bekal ke sekolah, menyulam itu merupakan hal yang penting bagi anak.

Di Zurich tempat tinggal Dominique orang-orang berkebun di rooptop. Anak-anak kota yang tinggal di flat mulai berkebun dan mengenal bunga-bunga. Berbeda budaya namun kita memiliki masalah yang sama: perubahan iklim atau global warming. Dari obrolan dengan Dominique, sepertinya Mulok Tanah yang kami susun mesti menyentuh keseharian anak. Semisal dari sisa bekal yang mereka bawa ke sekolah bisa di mulai pengenalan kompos dan tanah sebagai medium menanam. Pertanyaannya apakah Mulok Tanah dapat mengajak anak-anak di SDN Jatisura 1 untuk dapat mengenal tanah Jatiwangi?

*Rianto Irawan adalah salah satu periset dan penulis di Serrum. Lulusan Jurusan Pendidikan Geografi Universitas Negeri Jakarta ini sekarang memegang divisi publikasi dan penerbitan pada Festival Ekstrakurikulab. Pria ini aktif dalam beberapa organisasi, salah satunya adalah Lembaga Kajian Mahasiswa di kampusnya saat itu

Dokumentasi riset sumber belajar untuk muatan lokal tanah

Mulok Tanah-Jatiwangi

Kurikulab Masuk Desa : Menelusuri Identitas Genteng Jatiwangi

Oleh Rianto Irawan*

Sebuah desa memiliki identitas budaya sebagai perekat keutuhan dan kultur masyarakat di dalamnya.

Serrum memiliki kesempatan mengunjungi Desa Jatisura Jatiwangi Kabupaten Majalengka. Jatiwangi merupakan daerah yang ditetapkan Serrum sebagai laboratorium yang akan dilakukan riset Kurikulab Masuk DesaKurikulab Masuk Desa merupakan riset pendidikan yang dilakukan di sebuah desa demi menggali kebudayaan masyarakat lokal dan membuat kurikulum pendidikan berbasis lokal yang nantinya akan dipraktikan di sekolah-sekolah.

Jatiwangi memiliki identitas budaya berupa genteng sebagai produk lokal Jatiwangi. Warga Jatiwangi tak lepas dari tanah sebagai identitas kebudayaan. Iklila selaku mantan Kepala Dusun (Kadus) ingat betul saat demo di Majalengka kala itu. Ia menginginkan genteng sebagai identitas Jatiwangi. “Melalui persaudaraan Jatiwangi, kami sepakat bahwa genteng bukan cuma komoditas tapi juga identitas,” kata Iklila

Masyarakat Jatiwangi tak lepas kehidupannya dari tanah dan genteng. Iklila berkisah mengenai masa kecilnya bagaimana genteng menjadi bagian hidupnya. “Bekal ke sekolah cukup dua genteng, “ kata Iklila.

Begitu juga dengan Pak Apih yang pernah berkisah dengannya mengenai genteng sebagai alat ukur dalam pembelian. “Dulu beli satu sak semen dengan tiga keping genteng,” meniru ucapan Pak Apih. “Beli lima rokok pun cukup dengan satu keping genteng,” lanjutnya.

Ada pula Mandor Abah Emon yang berkisah mengenai klub bola yang didirikannya di suatu pertandingan sepak bola tahun 1993-1996 antara Burujul Kulon dan Burujul Wetan. Saat itu Mandor Abah Emon mampu mendatangkan pesepakbola dari Persib. “Satu orang pemain persib seharga satu colt diesel genteng,” kata Iklila. Sekarang, satu colt diesel seharga lima jutaan.

Jatiwangi diberkahi tanah yang baik, ibaratnya kalau tanah Jatiwangi diinjak bisa jadi genteng. Keberadaan Jebor (pabrik genteng) memiliki peran dalam pengembangan masyarakat sekitar. Dengan adanya Jebor Jatiwangi memiliki dua masa panen yakni panen padi dan panen genteng. Jebor di tahun 1980-an menjadi tempat pariwisata.

“Adapun pariwisata terhebat Jatiwangi tahun 1980 – 1995,” kata Iklila, “Wisatawan domestik beli genteng sambil bawa anaknya. Orang Garut saja sudah bangga banget, kalau ke sini suami istri naik bis nanti pulang bawa genteng. Ada rasa bangga jika ada suami istri pulang bawa genteng,” lanjut Iklila.

Jebor juga memiliki kenangan bagi masa kecil Iklila. Dia ingat betul Anak-anak bisa dibawa ke jebor untuk diayun atau bermain. Berbeda dengan Garmen yang melarang anak-anak bermain di sekitarnya. Jebor menjadi ingatan dan kenangan bagi warga Jatiwangi. Anak-anak sering menghabiskan waktunya bermain di Jebor.

Iklila percaya genteng Jatiwangi adalah identitas desanya. Suatu hari ia pernah mengobrol dengan JJ Rizal, “Ngomongin arsitektur Indonesia belum lengkap tanpa ngomongin genteng Jatiwangi,” kutip Iklila.

Genteng dan jebor adalah jejak-jejak gotong-royong di desa Jatisura, Jatiwangi ini. Hidup mesti seperti genteng, nilainya dibuat dari kegotong-royongan. Kami pun membawa fotokopi buku sejarah Desa Burujul Jatiwangi (Yayasan Al-Rifadah, 1998) karangan Agil Zainudin sebagai acuan bahan riset selanjutnya. Disebutkan bahwa usaha genteng di Jatiwangi bermula dari H.Umar bin H.Ma’ruf yang mendirikan langgar dengan atap genteng. Bermula memperbaiki langgar sehingga menjadi usaha yang turun-temurun. Diketahui genteng menjadi sendi perekonomian selain bertani.

*Rianto Irawan adalah salah satu periset dan penulis di Serrum. Lulusan Jurusan Pendidikan Geografi Universitas Negeri Jakarta ini sekarang memegang divisi publikasi dan penerbitan pada Festival Ekstrakurikulab. Pria ini aktif dalam beberapa organisasi, salah satunya adalah Lembaga Kajian Mahasiswa di kampusnya saat it

Presentasi RPP dan Silabus Muatan Lokal Tanah dengan Komik (Oleh Amy Zaharawaan) sebagai sumber belajar.

Kurikulab Masuk Desa

Latar Belakang

Sebagai seperangkat pengetahuan resmi yang dirumuskan oleh pemerintah, kurikulum pendidikan nasional cenderung bermuatan materi dari pusat pemerintah, Jakarta sebagai ibukota negara. Dengan demikian, terdapat kesenjangan dalam penyajian materi lokal yang memiliki keterkaitan dengan identitas masyarakat perdesaan. Dengan demikian para siswa menerima dan mempelajari materi jauh dari kehidupan mereka. Dampaknya yang terjadi perlahan-lahan identitas lokal terkikis dan keseragaman pola pikir siswa juga menjadi sebuah keniscayaan.

Jatiwangi-Jawa Barat

Jatiwangi adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Majalengka Provinsi Jawa Barat Indonesia. Sebagai salah satu penghasil genteng atap ternama di Indonesia. Jatiwangi memiliki potensi sumber daya alam yang khas yaitu tanah. Genteng yang terbuat dari tanah menjadi hasil kebudayaan yang khas di Jatiwangi. Namun saat ini, masuknya pabrik-pabrik garmen membuat merosotnya industri genteng, dampaknya banyak dari pabrik genteng tutup. Masyarakat Jatiwangi lebih memilih bekerja di pabrik garmen, terutama pada generasi muda. Dampaknya perlahan-lahan identitas lokal Jatiwangi sebagai desa khas akan genteng mulai terkikis.

Pemenang, Lombok-Nusa Tenggara Barat

Suku Sasaq yang menempati Pulau Lombok memiliki banyak sekali bahasa yang berbeda-beda. Banyak bahasa yang sudah tidak digunakan kembali di daerah tersebut. Berdasarkan FGD yang telah kita lakukan Lalaqa (Pantun) menjadi salah satu tradisi yang terus menerus digunakan dalam acara-acara adat seperti pernikahan. Melihat banyaknya bahasa di suku Sasaq itu sendiri Lalaqa pun menjadi banyak.

Background

In Indonesia there is a tendency that the curriculum in schools are standardised by the government, that is why sometimes, the knowledge that has been transmitted to the students in different kind of condition tends to be unreliable to their daily life. This type of generalisation is killing local knowledge and scraping local identity, whereas students need to learn about the unique potential every area can provide. If this goes on, instead of allowing every student to embrace their own competence, each one will aim to be like the majority.

Jatiwangi-Jawa Barat

Jatiwangi is a sub-district in Majalengka, West Java Province. Its historical journey as one of the clay roof tile producer, thanks to its natural resources, which is a unique compound of soil. Producing roof tile is a part of their unique local culture. Yet, these days many big garment industries allocate their factories in the same area with the roof tile factories. Consequently, many young generation in Majalengka choose to work for the garment industry instead. Jatiwangi’s old personality as one of the most notable roof tile producer slowly eroded.

Pemenang, Lombok-Nusa Tenggara Barat

Sasaq tribe that occupies the island of Lombok has a lot of different languages. Many languages are no longer used in the area. Based on the FGD we have done Lalaqa (Pantun) became one of the traditions that are continuously used in traditional events such as weddings. Seeing the many languages in the Sasaq tribe itself Lalaqa became a lot.

Deskripsi

Serrum berkolaborasi dengan masyarakat di daerah untuk mengeksplorasi kurikulum yang bermuatan narasi lokal sebagai sumber pengetahuan. Kemudian membuat rancangan tertulis untuk sebuah mata pelajaran muatan lokal (Mulok) yang berjalan selama satu semester di sekolah daerah tersebut.

Daerah yang pertama kali dipilih adalah desa Jatiwangi, Majalengka, Jawa Barat yang memiliki potensi lokal mengenai budaya tanah. Sedangkan kolaborasi melibatkan komunitas Jatiwangi Art Factory (JAF), SDN Jatisura 01, dan masyarakat setempat. Berkat kerjasama dengan berbagai pihak ini, muncul gagasan untuk mengembangkan mata pelajaran Mulok mengenai Tanah.

Proses pengembangan mata pelajaran Mulok Tanah ini menggunakan metode sejarah lisan, sebuah studi tentang perjalanan sejarah kehidupan masyarakat di sebuah wilayah sebagai sumber utama, dengan cara wawancara lisan dengan masyarakat setempat. Sedangkan penetapan kurikulum, silabus, dan sumber belajar dilakukan secara kolaboratif antara Serrum dan guru-guru SDN Jatisura 01.

Description

Serrum collaborates with Jatiwangi local residents to explore local values and resources that is harmonic with the national curriculum. The exploration will be documented and written as the core base of the local knowledge that can be taught in the formal classroom situation.

Jatiwangi is the first indigenous area that has unique local geographical and cultural condition that would be great to be explored collaboratively. With the help of local community, local elementary school (SDN Jatisura 01) and Jatiwangi Art Factory (JAF) the idea of making local knowledge about Jatiwangi’s unique soil condition into formal academic module in elementary level can be realised.

Research data about Jatiwangi local soil are gathered from different sources, such as verbal history, local wisdom and observation about local culture through truth and tale told by the Jatiwangi residents. Whereas the curriculum itself, is developed collaboratively with the teachers from SDN Jatisura 01.

It seems we can’t find what you’re looking for. Perhaps searching can help.

It seems we can’t find what you’re looking for. Perhaps searching can help.

Collective is a School, Copenhagen

Ekstrakurikulab : Kurikulab & Pasar Ilmu at Den Frie Copenhagen

Kurikulab
We invite 6 collective that runs for years to talk about how their collective/organisation runs, structure, manage their members, and questening what benefit for each individual member. Serrum comes with restatement "Collective is a School". ruangrupa, Forum Lenteng, Jatiwangi Art Factory, Life Patch, Helios, and FUKK. Each collective tell story about how and why their collective establish, what their goal, how they regeneration, what they learn, how their structure, how they survive, how they evaluate, and how their collective support each member individually. Serrum collaboration with FUKK, a artist collective in Copenhagen and took their place for discussion and video recording on April 23, 2016.

The discussion were recorded from above the table, and exhibite as video instalation at Den Frie "Supersub" on April 30 - June 5,  2016.

This project are serrum second step from the previous project in Jakarta 2014. There are 3 disscussion: "what for teachers is", "what for shool is", and "what for education is".

Pasar Ilmu
Its mural interactive project with audience in Copenhagen. Asking "what subject that you can teach to others" and "what subject that you want to learn". People can free to write down on our yellow wall. We were tried to breakdown  the potential basic of collectivism in artsy audience in Copenhagen Denmark.

Sekolah Talenta

Oleh Rianto

Gambar-gambar karya siswa Sekolah Talenta terpampang di dinding. Di dinding ada gambar suasana dalam laut yang penuh ikan dan kura-kura. Penuh warna dan makna. Kali ini Serrum berkunjung ke Sekolah Talenta. Sekolah Talenta merupakan sekolah yang dalam proses belajarnya banyak menggunakan metode seni rupa. Tak heran jika mengunjungi Sekoah Talenta akan ditemui gambar penuh warna di setiap temboknya.

Sekolah Talenta merupakan sekolah ketiga dalam Proyek Sekolah Idaman yang diadakan Serrum. Sekolah Talenta sendiri merupakan sekolah khusus yang di mana siswa-siswanya mengalami kesulitan belajar. Sekolah ini diselenggarakan atas prakarsa yang peduli terhadap dunia pendidikan anak-anak.

Mereka antusias mengikuti proyek Sekolah Idaman. Mengobrolkan imajinasi dan pandangan mereka mengenai sekolah. “Sekolah adalah tempat yang baik,” menurut David Hero menjawab pertanyaan dari Sigit.

Awalnya siswa mengalami kesulitan mengenai gambaran sekolah idaman yang mereka inginkan. Amy dari Serrum membantu dengan menggambarkan contoh di papan tulis mengenai sekolah idaman. Amy mencontohkan sekolah idaman adalah sekolah yang ada kolam renangnya.

Mulailah mereka berimajinasi mengenai sekolah apa yang mereka inginkan. Nicholas mengatakan dia ingin berkisah mengenai dirinya dan sekolahnya. 25 gambar dia hasilkan. Dari cerita yang bergambar itu, Nicholas secara eksplisit mengungkapkan sekolah yang ia inginkan. Nicholas bercerita mengenai pengalamnnya mendapatkan bully oleh teman di sekolah yang sebelumnya. Artinya Nicholas menginginkan sekolah No Bully. Di Sekolah Talenta ada peraturan “No Bully”. Di sekolah Talenta juga Nicholas menyukai pelajaran Matematika dan Seni Rupa. Sekolah yang baik juga menurut Nicholas tidak macet jika dilalui.

“Halaman di Sekolah Talenta bisa dijadikan tempat bermain,” kata Nicholas. Nicholas menginginkan sekolah yang halamannya luas bisa menjadi tempat bermain anak.

Sedangkan David M menginginkan sekolah memiliki dua lantai. Lantai pertama untuk digunakan kelas olahraga. Lantai dua digunakan kelas kesenian dan bermain alat musik. Di sekolah dalam imajinasinya hanya da 14 siswa untuk belajar. Mengenai seragam ia menginginkan seragam untuk upacara atau sehari-hari dan olahraga. Sekolah yang ia namakan “New School”juga mempunyai peraturan “No Bully”. Karena Bully mengakibatkan siswa tak mempunyai teman. Begitu pula yang diinginkan Vincent, di sekolahnya anak-anaknya dewasa tidak seperti anak kecil.

“Sekolah dekat dengan Kampus Atmajaya,” kata Calvin. Ia menginginkan lokasi sekolah yang ia ingikan dekat Kampus Atmajaya. Karena di sana kakaknya berkuliah.

Leonard Nathan mempunyai impian mendirikan sekolah “Garuda Fotografi School”. Sekolah ini merupakan sekolah khusus fotografi. Nathan menginginkan sekolahnya hanya berkaitan dengan fotografi saja. Di Garuda Fotografi School tidak ada pelajaran lain selain fotografi. Dalam gambarnya di kertas, Nathan menjelaskan sekolahnya ada dua ruangan. Ruangan pertama digunakan untuk kelas fotografi. Sedangkan ruangan lainnya berupa taman bebas yang luas yang dipakai untuk mencari foto. Nathan yang bercita-cita masuk universitas ini menginginkan Garuda Fotografi School hanya ada 10 guru.

“Seragam sekolah hanya batik saja,” kata Nathan.

Sekolah Talenta di mata siswa-siswanya adalah sekolah yang ideal. Sekolah Talenta menjadi cermin mereka yang menginginkan sekolah itu No Bully. Bagi Tri sebagai Kepala Sekolah mengenai pengakuan anak-anaknya itu lahir dari perasaan mereka sendiri. Sekolah menjadi tempat bermain sekaligus tempat mereka mempunyai teman.

SMA Negeri 7 Tangerang Selatan

Rabu, 4 Mei 2016

Ada catatan penting saat Lab Sekolah Idaman di SMAN 7 Tangerang Selatan dilaksanakan. Diskusi dilakukan dengan murid-murid.  Mereka merasa nyaman dengan keadaan secara fisik dari sekolah mereka.  Tinggal perawatan yang perlu dilakukan dari seluruh pihak. Ide-ide yang mereka kemukakan dari 3 aspek yang didiskusikan bersama. Pertama, dari fisik dan lokasi mereka mempunyai ide lokasi sekolah berada ditengah hutan. Hal ini disebabkan agar menghindari tawuran dengan sekolah lain.

Kedua, dari aspek sistem mereka mengemukan ide tentang siswa bisa mengutamakan memilih keterampilan dan keahlian mereka (peminatan) namun dengan catatan pada saat ujian harus mengutamakan kejujuran.

Ketiga, dari segi Budaya Sekolah hubungan guru dengan murid harus cair namun tetap menghargai. Yakni adanya kebebasan berpendapat di antara warga sekolah namun dengan batasan, menjunjung tinggi siswa yang jujur. Dari ide-ide liar beberapa murid mengemukakan bahwa tidak ada senioritas namun kemampuan "bertahan hidup" yang dibutuhkan. Karena meraka mengimajinasikan sekolah mereka berada di hutan yang liar.

Wednesday, May 4, 2016

Important note was taken during the Ideal School (translated: Desirable School) lab in High School  7 South Tangerang when a discussion was done by the students. They claimed to be comfortable with physical condition of their school.  Only the maintenance that should be done all school parties, no exception.

There were three main aspects of their idea discussed durng the meeting. First, the physical aspect: school should be located in the middle of a forest to avoid school fight. Second, the learning method: they suggested students can prioritize and choose their own skills (as their major) but they have to be honest during the test. Third, the cultural aspect: relationship between students and teachers should be more blended yet still put forward respect – a freedom to express their opinions (with certain borders) and uphold students’ honesty.

From those wild ideas, some students argued that there shouldn’t be any seniority but the ability to ‘survive’ that is needed the most as they are imaging their school placed in the middle of a jungle.