Kurikulab Masuk Desa

Latar Belakang

Sebagai seperangkat pengetahuan resmi yang dirumuskan oleh pemerintah, kurikulum pendidikan nasional cenderung bermuatan materi dari pusat pemerintah, Jakarta sebagai ibukota negara. Dengan demikian, terdapat kesenjangan dalam penyajian materi lokal yang memiliki keterkaitan dengan identitas masyarakat perdesaan. Dengan demikian para siswa menerima dan mempelajari materi jauh dari kehidupan mereka. Dampaknya yang terjadi perlahan-lahan identitas lokal terkikis dan keseragaman pola pikir siswa juga menjadi sebuah keniscayaan.

Jatiwangi-Jawa Barat

Jatiwangi adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Majalengka Provinsi Jawa Barat Indonesia. Sebagai salah satu penghasil genteng atap ternama di Indonesia. Jatiwangi memiliki potensi sumber daya alam yang khas yaitu tanah. Genteng yang terbuat dari tanah menjadi hasil kebudayaan yang khas di Jatiwangi. Namun saat ini, masuknya pabrik-pabrik garmen membuat merosotnya industri genteng, dampaknya banyak dari pabrik genteng tutup. Masyarakat Jatiwangi lebih memilih bekerja di pabrik garmen, terutama pada generasi muda. Dampaknya perlahan-lahan identitas lokal Jatiwangi sebagai desa khas akan genteng mulai terkikis.

Pemenang, Lombok-Nusa Tenggara Barat

Suku Sasaq yang menempati Pulau Lombok memiliki banyak sekali bahasa yang berbeda-beda. Banyak bahasa yang sudah tidak digunakan kembali di daerah tersebut. Berdasarkan FGD yang telah kita lakukan Lalaqa (Pantun) menjadi salah satu tradisi yang terus menerus digunakan dalam acara-acara adat seperti pernikahan. Melihat banyaknya bahasa di suku Sasaq itu sendiri Lalaqa pun menjadi banyak.

Background

In Indonesia there is a tendency that the curriculum in schools are standardised by the government, that is why sometimes, the knowledge that has been transmitted to the students in different kind of condition tends to be unreliable to their daily life. This type of generalisation is killing local knowledge and scraping local identity, whereas students need to learn about the unique potential every area can provide. If this goes on, instead of allowing every student to embrace their own competence, each one will aim to be like the majority.

Jatiwangi-Jawa Barat

Jatiwangi is a sub-district in Majalengka, West Java Province. Its historical journey as one of the clay roof tile producer, thanks to its natural resources, which is a unique compound of soil. Producing roof tile is a part of their unique local culture. Yet, these days many big garment industries allocate their factories in the same area with the roof tile factories. Consequently, many young generation in Majalengka choose to work for the garment industry instead. Jatiwangi’s old personality as one of the most notable roof tile producer slowly eroded.

Pemenang, Lombok-Nusa Tenggara Barat

Sasaq tribe that occupies the island of Lombok has a lot of different languages. Many languages are no longer used in the area. Based on the FGD we have done Lalaqa (Pantun) became one of the traditions that are continuously used in traditional events such as weddings. Seeing the many languages in the Sasaq tribe itself Lalaqa became a lot.

Deskripsi

Serrum berkolaborasi dengan masyarakat di daerah untuk mengeksplorasi kurikulum yang bermuatan narasi lokal sebagai sumber pengetahuan. Kemudian membuat rancangan tertulis untuk sebuah mata pelajaran muatan lokal (Mulok) yang berjalan selama satu semester di sekolah daerah tersebut.

Daerah yang pertama kali dipilih adalah desa Jatiwangi, Majalengka, Jawa Barat yang memiliki potensi lokal mengenai budaya tanah. Sedangkan kolaborasi melibatkan komunitas Jatiwangi Art Factory (JAF), SDN Jatisura 01, dan masyarakat setempat. Berkat kerjasama dengan berbagai pihak ini, muncul gagasan untuk mengembangkan mata pelajaran Mulok mengenai Tanah.

Proses pengembangan mata pelajaran Mulok Tanah ini menggunakan metode sejarah lisan, sebuah studi tentang perjalanan sejarah kehidupan masyarakat di sebuah wilayah sebagai sumber utama, dengan cara wawancara lisan dengan masyarakat setempat. Sedangkan penetapan kurikulum, silabus, dan sumber belajar dilakukan secara kolaboratif antara Serrum dan guru-guru SDN Jatisura 01.

Description

Serrum collaborates with Jatiwangi local residents to explore local values and resources that is harmonic with the national curriculum. The exploration will be documented and written as the core base of the local knowledge that can be taught in the formal classroom situation.

Jatiwangi is the first indigenous area that has unique local geographical and cultural condition that would be great to be explored collaboratively. With the help of local community, local elementary school (SDN Jatisura 01) and Jatiwangi Art Factory (JAF) the idea of making local knowledge about Jatiwangi’s unique soil condition into formal academic module in elementary level can be realised.

Research data about Jatiwangi local soil are gathered from different sources, such as verbal history, local wisdom and observation about local culture through truth and tale told by the Jatiwangi residents. Whereas the curriculum itself, is developed collaboratively with the teachers from SDN Jatisura 01.

It seems we can’t find what you’re looking for. Perhaps searching can help.

It seems we can’t find what you’re looking for. Perhaps searching can help.

Sekolah Talenta

Oleh Rianto

Gambar-gambar karya siswa Sekolah Talenta terpampang di dinding. Di dinding ada gambar suasana dalam laut yang penuh ikan dan kura-kura. Penuh warna dan makna. Kali ini Serrum berkunjung ke Sekolah Talenta. Sekolah Talenta merupakan sekolah yang dalam proses belajarnya banyak menggunakan metode seni rupa. Tak heran jika mengunjungi Sekoah Talenta akan ditemui gambar penuh warna di setiap temboknya.

Sekolah Talenta merupakan sekolah ketiga dalam Proyek Sekolah Idaman yang diadakan Serrum. Sekolah Talenta sendiri merupakan sekolah khusus yang di mana siswa-siswanya mengalami kesulitan belajar. Sekolah ini diselenggarakan atas prakarsa yang peduli terhadap dunia pendidikan anak-anak.

Mereka antusias mengikuti proyek Sekolah Idaman. Mengobrolkan imajinasi dan pandangan mereka mengenai sekolah. “Sekolah adalah tempat yang baik,” menurut David Hero menjawab pertanyaan dari Sigit.

Awalnya siswa mengalami kesulitan mengenai gambaran sekolah idaman yang mereka inginkan. Amy dari Serrum membantu dengan menggambarkan contoh di papan tulis mengenai sekolah idaman. Amy mencontohkan sekolah idaman adalah sekolah yang ada kolam renangnya.

Mulailah mereka berimajinasi mengenai sekolah apa yang mereka inginkan. Nicholas mengatakan dia ingin berkisah mengenai dirinya dan sekolahnya. 25 gambar dia hasilkan. Dari cerita yang bergambar itu, Nicholas secara eksplisit mengungkapkan sekolah yang ia inginkan. Nicholas bercerita mengenai pengalamnnya mendapatkan bully oleh teman di sekolah yang sebelumnya. Artinya Nicholas menginginkan sekolah No Bully. Di Sekolah Talenta ada peraturan “No Bully”. Di sekolah Talenta juga Nicholas menyukai pelajaran Matematika dan Seni Rupa. Sekolah yang baik juga menurut Nicholas tidak macet jika dilalui.

“Halaman di Sekolah Talenta bisa dijadikan tempat bermain,” kata Nicholas. Nicholas menginginkan sekolah yang halamannya luas bisa menjadi tempat bermain anak.

Sedangkan David M menginginkan sekolah memiliki dua lantai. Lantai pertama untuk digunakan kelas olahraga. Lantai dua digunakan kelas kesenian dan bermain alat musik. Di sekolah dalam imajinasinya hanya da 14 siswa untuk belajar. Mengenai seragam ia menginginkan seragam untuk upacara atau sehari-hari dan olahraga. Sekolah yang ia namakan “New School”juga mempunyai peraturan “No Bully”. Karena Bully mengakibatkan siswa tak mempunyai teman. Begitu pula yang diinginkan Vincent, di sekolahnya anak-anaknya dewasa tidak seperti anak kecil.

“Sekolah dekat dengan Kampus Atmajaya,” kata Calvin. Ia menginginkan lokasi sekolah yang ia ingikan dekat Kampus Atmajaya. Karena di sana kakaknya berkuliah.

Leonard Nathan mempunyai impian mendirikan sekolah “Garuda Fotografi School”. Sekolah ini merupakan sekolah khusus fotografi. Nathan menginginkan sekolahnya hanya berkaitan dengan fotografi saja. Di Garuda Fotografi School tidak ada pelajaran lain selain fotografi. Dalam gambarnya di kertas, Nathan menjelaskan sekolahnya ada dua ruangan. Ruangan pertama digunakan untuk kelas fotografi. Sedangkan ruangan lainnya berupa taman bebas yang luas yang dipakai untuk mencari foto. Nathan yang bercita-cita masuk universitas ini menginginkan Garuda Fotografi School hanya ada 10 guru.

“Seragam sekolah hanya batik saja,” kata Nathan.

Sekolah Talenta di mata siswa-siswanya adalah sekolah yang ideal. Sekolah Talenta menjadi cermin mereka yang menginginkan sekolah itu No Bully. Bagi Tri sebagai Kepala Sekolah mengenai pengakuan anak-anaknya itu lahir dari perasaan mereka sendiri. Sekolah menjadi tempat bermain sekaligus tempat mereka mempunyai teman.

SMA Negeri 7 Tangerang Selatan

Rabu, 4 Mei 2016

Ada catatan penting saat Lab Sekolah Idaman di SMAN 7 Tangerang Selatan dilaksanakan. Diskusi dilakukan dengan murid-murid.  Mereka merasa nyaman dengan keadaan secara fisik dari sekolah mereka.  Tinggal perawatan yang perlu dilakukan dari seluruh pihak. Ide-ide yang mereka kemukakan dari 3 aspek yang didiskusikan bersama. Pertama, dari fisik dan lokasi mereka mempunyai ide lokasi sekolah berada ditengah hutan. Hal ini disebabkan agar menghindari tawuran dengan sekolah lain.

Kedua, dari aspek sistem mereka mengemukan ide tentang siswa bisa mengutamakan memilih keterampilan dan keahlian mereka (peminatan) namun dengan catatan pada saat ujian harus mengutamakan kejujuran.

Ketiga, dari segi Budaya Sekolah hubungan guru dengan murid harus cair namun tetap menghargai. Yakni adanya kebebasan berpendapat di antara warga sekolah namun dengan batasan, menjunjung tinggi siswa yang jujur. Dari ide-ide liar beberapa murid mengemukakan bahwa tidak ada senioritas namun kemampuan "bertahan hidup" yang dibutuhkan. Karena meraka mengimajinasikan sekolah mereka berada di hutan yang liar.

Wednesday, May 4, 2016

Important note was taken during the Ideal School (translated: Desirable School) lab in High School  7 South Tangerang when a discussion was done by the students. They claimed to be comfortable with physical condition of their school.  Only the maintenance that should be done all school parties, no exception.

There were three main aspects of their idea discussed durng the meeting. First, the physical aspect: school should be located in the middle of a forest to avoid school fight. Second, the learning method: they suggested students can prioritize and choose their own skills (as their major) but they have to be honest during the test. Third, the cultural aspect: relationship between students and teachers should be more blended yet still put forward respect – a freedom to express their opinions (with certain borders) and uphold students’ honesty.

From those wild ideas, some students argued that there shouldn’t be any seniority but the ability to ‘survive’ that is needed the most as they are imaging their school placed in the middle of a jungle.

 

Sekolah Idaman

Sekolah Idaman

Latar Belakang

Sejak pertama kali didirikan, sekolah di Indonesia tidak pernah melibatkan siswa untuk menentukan bentuk serta aturan main yang akan dilaksanakan dalam sekolah. Sekolah dengan berbagai konfigurasinya menjelma menjadi sebuah impian yang sudah tersedia di hadapan masyarakat. Sekolah Idaman mencoba untuk mengubah logika konstruksi sekolah, bukan menjejalkan serangkaian konsep kepada masyarakat, melainkan mengumpulkan imaji-imaji dari sudut pandang siswa. Metode yang digunakan oleh Serrum yaitu berdialog dengan para siswa guna mengeskplorasi imajinasi mereka ihwal sekolah dalam tiga aspek yaitu, budaya, sistem, dan bentuk fisik sekolah.

Background

In the process of establishing rules in a school, student perspective is often disregarded. A school with its own configuration simply exists as a place within the society. Sekolah Idaman (translated: Desirable School) attempts to shift logical construction of a school. Rather than a ready-made educational space, but gathered imageries from its residents’ perspectives. Dialogue between students will be the base practice in this project to explore three fundamental proposition, which are the culture, the system, and the physicality of the school.

Deskripsi

Sekolah Idaman mengajak siswa untuk menafsirkan makna tentang sekolah. Bagaimana perspektif dan imajinasi siswa untuk sekolah sebagai rumah ke dua dari kehidupan sehari-hari mereka selama 12 tahun. Sekolah Idaman akan dilaksanakan untuk siswa dan siswi Sekolah Menengah Atas (SMA) di berbagai kota di Indonesia. Pemilihan sekolah didasari beberapa pertimbangan yakni, latar belakang sosial dan ekonomi murid, kecenderungan kemampuan kognitif murid, serta kecenderungan sekolah dalam membangun budaya di dalam institusinya. Pada praktiknya siswa dan seniman akan berkolaborasi untuk mensimulasikan hasil imajinasi mereka dengan pendekatan artistik.

Description

Sekolah Idaman invites learners or students to re-invent the meaning of school as a place and school as an activity. Most students spent their formal education for twelve years and there are not few that feel problematic to be at school. Sekolah Idaman is designed for students aged 15-19 which is are equivalent with secondary high school students in Indonesia. The chosen school is observed and evaluated based on the school students’ social capital, cultural capital, students’ cognitive inclination and its social culture as a sphere. Students will be collaborating with artist to simulate their ideals and desires integrated with aesthetic and artistic approach.

Documentation

Sekolah Talenta
Gambar-gambar karya siswa Sekolah Talenta terpampang di dinding. Di dinding ada gambar suasana dalam laut yang penuh ikan dan kura-kura.
Read more.
SMA Negeri 7 Tangerang Selatan
Ada catatan penting saat Lab Sekolah Idaman di SMAN 7 Tangerang Selatan dilaksanakan. Diskusi dilakukan dengan murid-murid.  Mereka merasa nyaman
Read more.
Sekolah Idaman
Sejak pertama kali didirikan, sekolah di Indonesia tidak pernah melibatkan siswa untuk menentukan bentuk serta aturan main yang akan dilaksanakan
Read more.

Rumah Guru

Latar Belakang

Beragamnya pengetahuan yang harus disampaikan guru kepada murid di sekolah kerap menimbulkan kebuntuan untuk mencari cara efektif dalam penyampaian proses belajar-mengajar. Khususnya guru-guru yang berada di daerah terpencil, seperti di Indonesia bagian timur, yang minim fasilitas dan terjebak pada materi pusat. Guna menciptakan kemungkinan-kemungkinan baru dan memecah kebuntuan-kesenjanganyang dialami guru, Serrum menyelenggarakan laboratorium Rumah Guru, yang berusaha menghubungkan titik temu antara inti suatu materi belajar dengan metode seni rupa.

Latar Belakang

Beragamnya pengetahuan yang harus disampaikan guru kepada murid di sekolah kerap menimbulkan kebuntuan untuk mencari cara efektif dalam penyampaian proses belajar-mengajar. Khususnya guru-guru yang berada di daerah terpencil, seperti di Indonesia bagian timur, yang minim fasilitas dan terjebak pada materi pusat. Guna menciptakan kemungkinan-kemungkinan baru dan memecah kebuntuan-kesenjanganyang dialami guru, Serrum menyelenggarakan laboratorium Rumah Guru, yang berusaha menghubungkan titik temu antara inti suatu materi belajar dengan metode seni rupa.

Deskripsi

Proyek ini melibatkan guru bidang studi dan seniman untuk berkolaborasi. Kedua pihak ini akan memilih materi belajar lalu mendiskusikan intisarinya, agar selanjutnya dapat ditentukan metode seni rupa yang tepat. Usai memilih kedua elemen dasar tersebut, guru dan seniman akan mempraktikannya di dalam kelas. Guru yang akan berkolaborasi diutamakan yang berasal dari daerah terpencil Indonesia, khususnya Indonesia bagian timur. Dengan pendekatan seni rupa, diharapkan materi ajar akan menjadi menyenangkan dan imajinatif merangsang pemikiran kreatif siswa.

Deskripsi

Proyek ini melibatkan guru bidang studi dan seniman untuk berkolaborasi. Kedua pihak ini akan memilih materi belajar lalu mendiskusikan intisarinya, agar selanjutnya dapat ditentukan metode seni rupa yang tepat. Usai memilih kedua elemen dasar tersebut, guru dan seniman akan mempraktikannya di dalam kelas. Guru yang akan berkolaborasi diutamakan yang berasal dari daerah terpencil Indonesia, khususnya Indonesia bagian timur. Dengan pendekatan seni rupa, diharapkan materi ajar akan menjadi menyenangkan dan imajinatif merangsang pemikiran kreatif siswa.

[the-post-grid id="926" title="Tes"]

Kurikulab Masuk Desa : Relasi Pendidikan dan Seni Rupa

Relasi Pendidikan dan Seni Rupa di Pekanbaru

Oleh Rianto*

Kamis 6 Juli 2017 di Anjungan Seni Idrus Tintin Serrum mengadakan diskusi terpumpun. Diskusi mengangkat tema “Relasi Pendidikan dan Seni Rupa di Pekanbaru”. Pelbagai siswa, guru, kepala sekolah, seniman, pejabat hadir dalam diskusi terpumpun. Diskusi terpumpun diadakan dalam rangkaian Pekan Seni Media di Pekanbaru. Pekan Seni Media menjadi ajang memperkenalkan seni media di kalangan masyarakat Pekanbaru.

Mengenai seni Soemardhi Thaher tokoh pendidikan di Pekanbaru mengatakan hidup tanpa seni menjadi gersang. Di sekolah pelajaran seni rupa masih menjadi pelajaran selingan. Seni rupa di sekolah-sekolah masih kurang populer dibandingkan dengan teater dan sastra. Sayangnya di sebuah sekolah di Pekanbaru misalnya jarang sekali guru seni budaya yang latar belakangnya seni rupa. Guru-guru seni budaya berasal dari lulusan seni tari, seni teater maupun musik. Kurangnya guru-guru yang berlatar belakang seni rupa juga menjadi kendala dalam mempopulerkan seni rupa di sekolah-sekolah. Pelajaran seni rupa yang kurang diminati diharapkan perupa hadir ke sekolah-sekolah. Perupa hadir ke sekolah untuk dapat memberikan pelbagai pengetahuan seni rupa di kalangan siswa.

Perupa inilah yang nantinya dapat bekerjasama dengan sekolah dalam menumbuhkan serta merawat potensi kreatif seni rupa siswa sekolah. Artinya diperlukan relasi yang lebih spesifik antar sekolah dan seniman. Relasi ini tentunya menjadi mata baca perkembangan seni rupa Riau semisal dengan menumbuhkan muatan lokalitas dalam berkarya di kalangan siswa. Dengan terjunnya seniman ke sekolah menjadi jalan menumbuhkan seni rupa di kalangan siswa. Masuknya perupa ke sekolah-sekolah pernah dilakukan oleh Sindikat Kartunis Riau (Sikari). Mereka melakukan workshop komik di sekolah-sekolah. Sekolah tidak perlu sungkan untuk bekerjasama dengan perupa Riau. Semisal guru multimedia mengundang seniman komik untuk membuat animasi. Kolaborasi ini diharapkan menambah pengetahuan bagi siswa.

Perkembangan seni rupa dan pendidikan di Pekanbaru tak lepas dari perkembangan kota Pekanbaru. Kota ini diharapkan sebagai inspirasi melukis, menulis syair, ataupun mural. Gagasan itu pernah di lontarkan oleh Yusmar Yusuf di bukunya Gaya Riau Sentuhan Fenomenologi Budaya Melayu di Tengah Globalisasi (Pusat Pengajian Bahasa dan Kebudayaan Melayu Universitas Riau). Kota Pekanbaru yang panas dan membuat dehidrasi orang-orang memerlukan taman kota. Taman kota dibuat tak hanya untuk menambah oksigen serta membuat sejuk bagi pejalan kaki. Taman kota juga sebagai tempat di mana anak-anak sekolah bisa melukis. Kota Pekanbaru dengan tamannya menjadi denyut seni dan budaya: syair, lukis, mural. Di sini karya seni yang dibuat merupakan respon dari orang-orang terhadap kota dan kampungnya. Seni menjadi medium kabar perkembangan apapun: pendidikan, sosial, politik. Yusmar Yusuf juga mengatakan pentingnya sebuah gedung kesenian di sebuah kota sebagai tempat pengembangan seni.

Ketiadaan galeri di Pekanbaru juga menjadi poin penting seni rupa di Pekanbaru terbilang sepi. Sebuah kota seperti Pekanbaru mestinya memiliki galeri. Galeri menjadi syarat sebuah kota metropolis. Galeri di Pekanbaru menjadi tempat di mana perupa dapat berpameran. Sehingga perupa di Pekanbaru tak menunggu undangan galeri-galeri di Jakarta ataupun kota-kota lain di Jawa semisal Bandung dan Yogyakarta untuk dapat majang karya. Inilah juga yang diamati Dantce S Moeis mengenai perkembangan seni rupa Riau. Perkembangan seni rupa di Pekanbaru masih berada di bayang-bayang Jawa. Dantce masyhgul atas catatan perkembangan seni rupa di Sumatera dan khususnya Riau yang tak nampak. Riau masih dalam pencarian dan penemuan identitas kesenirupaan.

Institusi seni rupa yang tak ada di Pekanbaru bisa dikatakan menambah sepinya wacana seni rupa. Seniman yang ingin menggali wacana seni rupa di institusi akademik hijrah ke Sumatera Barat dan institusi seni yang berada di Jawa untuk belajar. Dan ini tidak hanya terjadi di seni rupa, gejala ini juga terjadi pada perkembangan sastra, tari, musik dan teater. Ini menandakan Pekanbaru membutuhkan institusi seni rupa yang menjadi rumah ide bagi siswa, perupa dan masyarakat Pekanbaru.

Dukungan media cetak untuk menjadi pengabar seni rupa di sebuah kota juga menjadi bagian penting. Keberadaan media cetak terutama koran pun dirasakan menjadi media penting yang memuat konten seni rupa. Semisal di koran lokal di hari Minggu di Riau Pos kita mudah menemukan dan membaca ulasan mengenai sastra. Namun tak nampak ulasan mengenai seni rupa. Pentingnya perkembangan media cetak dan sosial/online ini dirasakan Eko dari Sikari. Dengan jarangnya koran-koran memuat kartun membuatnya memanfaatkan media sosial sebagai medium penyampai pesan. Medsos menjadi jalan penyampai pesan dalam berkarya. Kekuatan medsos ini juga yang dilirik anak-anak muda dalam berkarya.

Semoga kedepannya seni rupa di Pekanbaru menjadi berkembang. Setali dua uang yang dikatakan Sanento Yuliman perkembangan seni rupa terkait pula dengan perkembangan pendidikan terutama perguruan tinggi yang menyentuh batas-batas seni di masyarakat. Pekan Seni Media yang diadakan Forum Lenteng dan Direktorat Jenderal Kebudayaan, Direktorat Kesenian, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan di Pekanbaru menjadi turning point atau arus balik akankah tergerak para seniman, siswa, guru, kepala sekolah, stake holder untuk melahirkan institusi ataupun sekolah seni rupa. Menjadi catatan penting ke depannya Pekanbaru bisa menjadi kota seni media dengan ditopang pendidikan tinggi seni rupa yang mumpuni. Semoga.

 

*Rianto merupakan salah satu anggota tim riset Serrum. Aktif menulis dibeberapa surat kabar lokal maupun nasional dan menuangkan tulisannya di  blog pribadinya. Sekarang sedang menjalankan program Pena Siswa (Sebuah wadah menulis untuk Pelajar) bersama Serrum and Plus.