Serrum : Wacana Pendidikan dan Seni Rupa

Di tahun 2019, Serrum menjadi bagian dari Gudskul, yang merupakan ruang belajar untuk publik berfokus pada studi kolektif dan ekosistem seni rupa kontemporer dan dibentuk oleh tiga kelompok seni di Jakarta: ruangrupa, Serrum, dan Grafis Huru Hara (GHH).

Bila berkaca pada projek yang telah kami jalankan sebelumnya. Di tahun 2014 membuat projek KurikuLAB, sebuah proyek yang juga merupakan pameran tunggal Serrum di Galeri Cipta 2, KurikuLab adalah projek pameran tunggal pertama oleh Serrum sebagai sebuah komunitas. Dalam hal ini Serrum sebagai komunitas seniman berikut pula sebagai inisiator yang akan mempresentasikan karya seni di dalam ruang pamer. Selama ini Serrum mempunyai kecenderungan memproduksi karya melalui konsep art projek, yang mempertimbangkan relasi wacana terhadap publiknya. Kerja-kerja proyek seni yang dilakukan Serrum menciptakan kecenderungan kerja kolaborasi, partisipasi dan interaksi secara dinamis dan organik. Pada kesempatan kali ini pun karya-karya yang dihasilkan mempunyai pola yang sama layaknya proses berkarya di dalam sebuah art projek. Melalui pameran ini, Serrum sedang bereksperimen dengan modul, yang bertujuan untuk membongkar dan menginventarisir poin-poin penting dalam persoalan pendidikan yang didapat selama FGD berlangsung, untuk distribusikan melalui pameran ini berupa catatan catatan dan rekaman video yang terjadi diatas meja diskusi.

Selanjutnya pada 2016, Serrum sebagai sebuah organisasi mengadakan festival untuk pertama kalinya dalam 10 tahun berdirinya Serrum. Sebuah festival kesenian yang mengamati fenomena pendidikan yang ada di masyarakat. Festival ini merupakan salah satu cara bagaimana memandang bagaimana sebuah sistem pendidikan bekerja di masyarakat. Dalam praktiknya ekstrakurikuLab mencoba melakukan pendekatan yang artistik sebagai salah satu bentuk presentasi. Selain itu eksperimentasi, spekulasi, kolaborasi dan partisipasi menjadi pola kerja yang dilakukan ekstrakurikuLab sebagai bentuk "Ekstra" yang ditawarkan kepada publik dalam memandang fenomena pendidikan.

Bila kurikuLab adalah cara kami untuk membongkar wacana-wacana tentang pendidikan dan berbagai perangkat serta sistemnya dalam EkstrakurikuLab bagaimana kami menerapkan eksperimen-eksperimen soal pendidikan beserta sistemnya.

Remedial dan Implementasi Seni Rupa Kontemporer

Di tahun 2018, Serrum dengan program Remedial mengadakan program pameran karya seni rupa untuk murid SMA atau sederajatnya. Pada pelaksanaannya pameran tersebut bersifat lamaran terbuka, murid SMA dapat mengirimkan aplikasi lamaran dan bila lolos tahapan pertama, mereka dapat melakukan presentasi karya di depan dewan juri selanjutnya bila lolos mereka dapat memamerkan karya-karya mereka di pameran. Setelah itu, terpilih 3 murid dengan karya terbaik yang kami berikan kesempatan dalam program "mini residensi". Program tersebut memberikan pengalaman residensi seni kepada murid SMA, mereka dikenalkan lebih dalam dengan medium-medium dalam seni rupa, wacana dan praktik yang lebih dalam. Residensi ini menjadi proses penggalian potensi dalam diri mereka, seperti potensi wacana dan medium yang mereka minati untuk dipresentasikan menjadi projek seni.

Di tahun 2019, Serrum dengan program Remedial-nya merubah pola bekerja. Kali ini, Remedial membuka lamaran terbuka untuk murid SMA untuk mengirimkan CV dan portofolio karya-karya seni rupa dan sastranya. Setelah dilakukan proses seleksi terpilih 15 murid yang memenuhi kualifikasi untuk mengikuti program Remedial kali ini, murid yang terpilih dari beragam jenis sekolah tingkat menengah atas, ada yang dari MAN, SMA Negeri, SMK swasta, SMK Negeri hingga sekolah menengah atas internasional.

Dalam program Remedial ini, latar belakang kami dalam melihat fenomena yang sedang terjadi hari ini mulai dari situasi sosial, budaya dan politik hari ini yang sedang berkembang. Serrum sebagai organisasi yang memiliki fokus terhadap isu pendidikan dan seni rupa perlu melakukan penggembangan terhadap proses dan konsep yang telah Serrum lakukan selama ini. Khususnya terhadap isu pendidikan melalui pendekatan seni rupa. Kegiatan ini mencoba menggembangkan hal tersebut dan berfokus dalam hal pola konsumsi informasi dan pengetahuan pada murid SMA. Usia SMA merupakan proses manusia untuk mengenal dan berupaya mencari identitas. Dan kali ini, Serrum mencoba untuk menggali, mengkritisi identitas tersebut secara bersama-sama. Hal lain adalah percepatan arus informasi yang begitu deras memberikan banyak sekali manfaat bagi kita. Serrum berupaya memanfaatkan hal tersebut menjadi sebuah pengetahuan. Serrum percaya bahwa distribusi pengetahuan dan informasi dapat diperoleh dari mana saja dan dari siapa saja, dengan kata lain egaliter pengetahuan.  

Sementara, paradigma seni rupa kontemporer hari ini yang bersifat global juga melakukan praktik-praktik lintas disiplin serta wacana dan metode yang terus berkembang. Di dalam praktiknya, seni rupa kontemporer berusaha untuk terus memberikan nilai-nilai sebagai penguat perannya di masyarakat. Salah dua peran tersebut adalah informasi dan pengetahuan. Di samping itu seni rupa kontemporer dapat menjadi metode untuk mengkritisi dan memahami kondisi hari ini. Maka Serrum menjadikan pendekatan seni sebagai sebuah cara untuk memahami dan mengkritisi kondisi hari ini dan mencoba menjadikan paradigma seni rupa kontemporer menjadi sebuah metode pembelajaran yang bersifat eksperimentatif kepada murid SMA.

Melihat latar belakang tersebut kami mempunyai beberapa tujuan dalam program ini. Selain memberikan pengetahuan tambahan diluar sekolah dari murid SMA atau sederajatnya, kami juga mempunyai tujuan seperti Menggembangkan minat murid sesuai kemampuannya yang dimiliki, mengenalkan perkembangan seni khususnya seni rupa hari ini, mengenal dan mengkritisi lebih jauh karakter diri melalui pola konsumsi informasi dan pengetahuan dan kami mencoba memformulasikan alternatif metode pembelajaran melalui seni rupa kontemporer. Dalam praktiknya program ini berlangsung selama 6 bulan dengan 16 kali pertemuan.

Dalam proses pemilihan peserta, cukup sulit bagi kami untuk menentukan peserta yang lolos dan dapat mengikuti program Remedial ini. Kami memilih beberapa calon peserta yang mempunyai inisiatif dan minat yang kuat dalam program ini. Kami meminta pelamar untuk melampirkan portofolio karya-karya seni rupa atau sastra yang telah mereka buat sebelumnya, hal tersebut kami untuk menentukan minat seni rupa dan sastra, dan juga sebagai bentuk kesiapan mereka untuk mengikuti program Remedial. Dari aplikasi pelamaran yang kami buka, kami juga menanyakan alasan mereka untuk mengikuti program ini. Berbagai alasan yang kami terima, mulai dari ingin mengembangkan diri melalui seni rupa dan sastra, memperluas jaringan dan wawasan, menambah pengalaman di bidang sastra dan seni rupa, mengeksplorasi kemampuan diri hingga memperluas gagasan dalam berkarya di bidang seni rupa ataupun sastra. Secara langsung kami tidak menerapkan proses penilaian yang baku namun kami melihat potensi dari diri mereka, potensi untuk berkembang bersama dan potensi untuk membagikan pengetahuan dan informasi yang mereka miliki.

Remedial menjadi upaya kami dalam mendistribusikan pengetahuan dan informasi. Dengan cara memberikan kesadaran kritis terhadap situasi lingkungan dan sosial terhadap peserta. Dan Remedial merupakan cara kami untuk berkomunikasi dengan generasi yang sekarang menduduki bangku sekolah menengah atas dan sederajatnya sebagai salah satu metode pertukaran pengetahuan.

Dokumentasi pertemuan pertama dan kedua Remedial