Latar Belakang

Dahulu ketika seorang petani membutuhkan atau sekadar ingin menajamkan arit untuk menggarap sawahnya, ia akan pergi ke tukang pandai besi di waktu senggangnya. Di waktu ketika ia telah selesai menggarap sawahnya guna mengetahui cara mengasah arit hingga membuat arit sendiri. Hingga mengerti cara mengasah atau mampu membuat arit, petani akan akan terus mengunjungi pandai besi di waktu luangnya.

Di Yunani kuno, kegiatan memberdayakan diri sendiri ini di sebut skhola. Skhola yang berarti waktu luang ini yang kemudian berkembang selaras perkembangan zaman menjadi lembaga yang kini bertugas memberdayakan orang lain (murid) melalui varian metode, konten pengetahuan, dan perangkat lainnya. Di Indonesia kita menyebutnya lembaga ini sebagai Sekolah.

Tak seperti skhola yang bersifat lentur, sekolah kemudian disusun melalui seleksi yang ketat, ia mengambil pengetahuan yang potensial untuk zamannya guna ditransmisikan kepada peserta didik, dan mengeliminasi sisanya. Sekolah menanamkan nilai-nilai yang strategis dengan zamannya dan membuang nilai lainnya.

Namun, tak selamanya orang-orang menerima sekolah dengan keketatan seperti itu. Tak semua pihak sependapat jika pengetahuan yang dieliminasi, nilai yang dibuang dianggap kesia-siaan dan tak berguna. Bahkan, pengetahuan dan nilai yang tersisih itulah yang justru lebih dekat dengan hidup peserta didik alih-alih zaman yang dianggap bergerak.

Guna memberikan pengetahuan dan nilai yang tercecer dari sekolah orang-orang memulai gagasan alternatif. Mereka membuat sekolah alternatif dengan pengetahuan dan nilai yang tak diakomodasi oleh sekolah dengan mekanisme yang ketat. Nilai dan pengetahuan yang setidaknya diyakini tak kalah penting malah lebih penting dibanding nilai dan pengetahuan terpilih.

Metode

Kami coba membangun interaksi pembelajaran yang terbentuk berdasarkan keinginan atau kebutuhan masyarakat. Kami akan melakukan sejumlah wawancara kepada masyarakat dengan berbagai latar belakang profesi. Pertanyaan yang akan kami ajukan yaitu:

  1. “Bagi anda, hal apa yg anda butuhkan untuk dipelajari?”
  2. “Jika anda diberikan kesempatan untuk membagikan ilmu/keahlian anda, apa yang akan anda bagikan?”

Dua variabel ini akan kami tanyakan pada setiap orang. Berdasarkan variabel tersebut, kami akan memetakannya. Kemudian, kami membuat sebuah sistem pembelajaran yang terbentuk oleh keinginan atau kebutuhan tersebut, sehingga akan mengkoneksikan supply dan demand secara otomatis, sesuai dengan kebutuhan pengetahuan masing-masing. Sama seperti pasar, kami menggunakan prinsip supply and demand dalam membangun sistem ujicoba ini.

 

Deksripsi

Adapun eksperimentasi yang dilakukan Serrum adalah dengan melaksanakan sebuah sistem transmisi ilmu pengetahuan yang bukan didasarkan pada atribut-atribut yang melekat pada diri seseorang yang menjadikannya lebih layak untuk memberi dan diberi pengetahuan, melainkan dengan mempertemukan kedua pihak berdasarkan kebutuhan (demand) dan kesediaan (supply) membahas sebuah pengetahuan yang sama. Teknis pengumpulan supply dan demand pengetahuan dilakukan dengan menyebar kuesioner secara acak.

 

Jogja Biennale 2015

Jogja Biennale 2015

Residency Koganecho 2016

Residency Koganecho 2016

Supersub DenFrie 2016

Supersub DenFrie 2016

Launching Sekolah 244x122

Launching Sekolah 244x122