Serrum : Wacana Pendidikan dan Seni Rupa

Di tahun 2019, Serrum menjadi bagian dari Gudskul, yang merupakan ruang belajar untuk publik berfokus pada studi kolektif dan ekosistem seni rupa kontemporer dan dibentuk oleh tiga kelompok seni di Jakarta: ruangrupa, Serrum, dan Grafis Huru Hara (GHH).

Bila berkaca pada projek yang telah kami jalankan sebelumnya. Di tahun 2014 membuat projek KurikuLAB, sebuah proyek yang juga merupakan pameran tunggal Serrum di Galeri Cipta 2, KurikuLab adalah projek pameran tunggal pertama oleh Serrum sebagai sebuah komunitas. Dalam hal ini Serrum sebagai komunitas seniman berikut pula sebagai inisiator yang akan mempresentasikan karya seni di dalam ruang pamer. Selama ini Serrum mempunyai kecenderungan memproduksi karya melalui konsep art projek, yang mempertimbangkan relasi wacana terhadap publiknya. Kerja-kerja proyek seni yang dilakukan Serrum menciptakan kecenderungan kerja kolaborasi, partisipasi dan interaksi secara dinamis dan organik. Pada kesempatan kali ini pun karya-karya yang dihasilkan mempunyai pola yang sama layaknya proses berkarya di dalam sebuah art projek. Melalui pameran ini, Serrum sedang bereksperimen dengan modul, yang bertujuan untuk membongkar dan menginventarisir poin-poin penting dalam persoalan pendidikan yang didapat selama FGD berlangsung, untuk distribusikan melalui pameran ini berupa catatan catatan dan rekaman video yang terjadi diatas meja diskusi.

Selanjutnya pada 2016, Serrum sebagai sebuah organisasi mengadakan festival untuk pertama kalinya dalam 10 tahun berdirinya Serrum. Sebuah festival kesenian yang mengamati fenomena pendidikan yang ada di masyarakat. Festival ini merupakan salah satu cara bagaimana memandang bagaimana sebuah sistem pendidikan bekerja di masyarakat. Dalam praktiknya ekstrakurikuLab mencoba melakukan pendekatan yang artistik sebagai salah satu bentuk presentasi. Selain itu eksperimentasi, spekulasi, kolaborasi dan partisipasi menjadi pola kerja yang dilakukan ekstrakurikuLab sebagai bentuk "Ekstra" yang ditawarkan kepada publik dalam memandang fenomena pendidikan.

Bila kurikuLab adalah cara kami untuk membongkar wacana-wacana tentang pendidikan dan berbagai perangkat serta sistemnya dalam EkstrakurikuLab bagaimana kami menerapkan eksperimen-eksperimen soal pendidikan beserta sistemnya.

Remedial dan Implementasi Seni Rupa Kontemporer

Di tahun 2018, Serrum dengan program Remedial mengadakan program pameran karya seni rupa untuk murid SMA atau sederajatnya. Pada pelaksanaannya pameran tersebut bersifat lamaran terbuka, murid SMA dapat mengirimkan aplikasi lamaran dan bila lolos tahapan pertama, mereka dapat melakukan presentasi karya di depan dewan juri selanjutnya bila lolos mereka dapat memamerkan karya-karya mereka di pameran. Setelah itu, terpilih 3 murid dengan karya terbaik yang kami berikan kesempatan dalam program "mini residensi". Program tersebut memberikan pengalaman residensi seni kepada murid SMA, mereka dikenalkan lebih dalam dengan medium-medium dalam seni rupa, wacana dan praktik yang lebih dalam. Residensi ini menjadi proses penggalian potensi dalam diri mereka, seperti potensi wacana dan medium yang mereka minati untuk dipresentasikan menjadi projek seni.

Di tahun 2019, Serrum dengan program Remedial-nya merubah pola bekerja. Kali ini, Remedial membuka lamaran terbuka untuk murid SMA untuk mengirimkan CV dan portofolio karya-karya seni rupa dan sastranya. Setelah dilakukan proses seleksi terpilih 15 murid yang memenuhi kualifikasi untuk mengikuti program Remedial kali ini, murid yang terpilih dari beragam jenis sekolah tingkat menengah atas, ada yang dari MAN, SMA Negeri, SMK swasta, SMK Negeri hingga sekolah menengah atas internasional.

Dalam program Remedial ini, latar belakang kami dalam melihat fenomena yang sedang terjadi hari ini mulai dari situasi sosial, budaya dan politik hari ini yang sedang berkembang. Serrum sebagai organisasi yang memiliki fokus terhadap isu pendidikan dan seni rupa perlu melakukan penggembangan terhadap proses dan konsep yang telah Serrum lakukan selama ini. Khususnya terhadap isu pendidikan melalui pendekatan seni rupa. Kegiatan ini mencoba menggembangkan hal tersebut dan berfokus dalam hal pola konsumsi informasi dan pengetahuan pada murid SMA. Usia SMA merupakan proses manusia untuk mengenal dan berupaya mencari identitas. Dan kali ini, Serrum mencoba untuk menggali, mengkritisi identitas tersebut secara bersama-sama. Hal lain adalah percepatan arus informasi yang begitu deras memberikan banyak sekali manfaat bagi kita. Serrum berupaya memanfaatkan hal tersebut menjadi sebuah pengetahuan. Serrum percaya bahwa distribusi pengetahuan dan informasi dapat diperoleh dari mana saja dan dari siapa saja, dengan kata lain egaliter pengetahuan.  

Sementara, paradigma seni rupa kontemporer hari ini yang bersifat global juga melakukan praktik-praktik lintas disiplin serta wacana dan metode yang terus berkembang. Di dalam praktiknya, seni rupa kontemporer berusaha untuk terus memberikan nilai-nilai sebagai penguat perannya di masyarakat. Salah dua peran tersebut adalah informasi dan pengetahuan. Di samping itu seni rupa kontemporer dapat menjadi metode untuk mengkritisi dan memahami kondisi hari ini. Maka Serrum menjadikan pendekatan seni sebagai sebuah cara untuk memahami dan mengkritisi kondisi hari ini dan mencoba menjadikan paradigma seni rupa kontemporer menjadi sebuah metode pembelajaran yang bersifat eksperimentatif kepada murid SMA.

Melihat latar belakang tersebut kami mempunyai beberapa tujuan dalam program ini. Selain memberikan pengetahuan tambahan diluar sekolah dari murid SMA atau sederajatnya, kami juga mempunyai tujuan seperti Menggembangkan minat murid sesuai kemampuannya yang dimiliki, mengenalkan perkembangan seni khususnya seni rupa hari ini, mengenal dan mengkritisi lebih jauh karakter diri melalui pola konsumsi informasi dan pengetahuan dan kami mencoba memformulasikan alternatif metode pembelajaran melalui seni rupa kontemporer. Dalam praktiknya program ini berlangsung selama 6 bulan dengan 16 kali pertemuan.

Dalam proses pemilihan peserta, cukup sulit bagi kami untuk menentukan peserta yang lolos dan dapat mengikuti program Remedial ini. Kami memilih beberapa calon peserta yang mempunyai inisiatif dan minat yang kuat dalam program ini. Kami meminta pelamar untuk melampirkan portofolio karya-karya seni rupa atau sastra yang telah mereka buat sebelumnya, hal tersebut kami untuk menentukan minat seni rupa dan sastra, dan juga sebagai bentuk kesiapan mereka untuk mengikuti program Remedial. Dari aplikasi pelamaran yang kami buka, kami juga menanyakan alasan mereka untuk mengikuti program ini. Berbagai alasan yang kami terima, mulai dari ingin mengembangkan diri melalui seni rupa dan sastra, memperluas jaringan dan wawasan, menambah pengalaman di bidang sastra dan seni rupa, mengeksplorasi kemampuan diri hingga memperluas gagasan dalam berkarya di bidang seni rupa ataupun sastra. Secara langsung kami tidak menerapkan proses penilaian yang baku namun kami melihat potensi dari diri mereka, potensi untuk berkembang bersama dan potensi untuk membagikan pengetahuan dan informasi yang mereka miliki.

Remedial menjadi upaya kami dalam mendistribusikan pengetahuan dan informasi. Dengan cara memberikan kesadaran kritis terhadap situasi lingkungan dan sosial terhadap peserta. Dan Remedial merupakan cara kami untuk berkomunikasi dengan generasi yang sekarang menduduki bangku sekolah menengah atas dan sederajatnya sebagai salah satu metode pertukaran pengetahuan.

Dokumentasi pertemuan pertama dan kedua Remedial

Mulok Tanah Butuh Buku Ajar

Mulok Tanah Butuh Buku Ajar

Oleh Rianto Irawan*

Di ruang kantor kepala SDN Jatisura 1 Serrum dan JAF bertemu Hafidin. Ia merupakan kepala SDN Jatisura 1. Serrum melanjutkan penelitian mengenai program Kurikulab Masuk Desa (KMD) berupa Mulok Tanah. Hafidin mengatakan Komik Mulok Tanah yang dibuat Amy merupakan bacaan penunjang. Hafidin menganggapkomik sebagai bahan bacaan perlu diperbanyak untuk perpustakaan. Selain Komik Mulok Tanah, Wacil Wahyudi sebagai pendidik dan seniman membuat perangkat pembelajaran berupa dua silabus yang berdasarkan Kurikulum 2013 (kurtilas) dan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Hafidin tertarik dengan silabus berdasarkan kurtilas. Karena silabus yang dibuat banyak menekankan praktik.Silabus ini sesuai dengan semangat kurtilas.

KMD butuh buku bahan ajar agar silabus dapat berjalan. Mulok Tanah dengan bahan ajar yang dibuat dapat mengangkat lokalitas dan lekat dengan kehidupan sehari-hari. Mulok Tanah menjadi pelajaran yang diharapkan mampu menunjang pengajaran di sekolah. Selama ini mulok yang dilakukan di SD Jatisura 1 hanya Bahasa Sunda, Bahasa Inggris, dan Karawitan. Sering sekali sekolah-sekolah memilih bahasa Inggris. Mulok Tanah diharapkan menjadi pilihan dalam pelajaran Seni Budaya dan Prakarya (SBK) di Jatiwangi.

Bagaimana kalau nanti diadakan pameran di sekolah mengenai Mulok Tanah? Hafidin mengatakan di Jatisura 1 pernah mengadakan pameran hasil kerajinan anak-anak. Sepertinya gagasan pameran di sekolah menjadi bagian penting. Kerja kolaboratif melalui Mulok Tanah diharapkan dapat ditampilkan secara pameran yang setiap warga sekitar dapat melihat hasil dari program KMD ini.

Sumber belajar

Kampung Wateskami berkeliling ke kampung ini. Siang mungkin begitu terik, kami pun singgah di  Saung (pendidikan) Ciranggon. Saung ini mengingatkan kembali akan pesan leluhur mengenai tanah dan bercocok tanam. Barangkali "menanam merupakan bentuk perlawanan". Mengingat tanah ini penuh konflik. Melalui jalan kebudayaan dan bercocok tanam warga berbicara tentang hak mereka. Secara kultural ruang pendidikan ini menjadi lab: tanah diyakini sebagai medium belajar. Mereka bercocok tanam dan menghasilkan makanan yang tumbuh dari tanah mereka sendiri. Persis seperti kue jahe dan keripik daun  sawi sendok itu dibuat oleh warganya sendiri. Kampung ini menjadi media belajar yang cocok bagi murid-murid belajar Mulok Tanah. Sebuah Kampung pun menjadi sumber belajar dalam Mulok Tanah.

Iing Solihin merupakan pemilik dari Saung Ciranggon. Iing ingat ketika itu ia sering diajak neneknya ke sawah. Di sawah itu ada hima atau saung. Di saung pula ia melihat orang-orangan sawah atau bebegig. Burung-burung pun enggan merusak padi. Neneknya mengajar kan padanya soal pentingnya menanam. “Menanam soal mencintai,” kata Iing. Serrum mendapatkan cerita itu saat wawancara di Jatiwangi Art Factory (JAF). Iing merupakan sumber belajar Mulok Tanah. Di halaman rumahnya berdiri Saung (Pendidikan) Ciranggon. Saung ini akan menjadi tempat belajar bagi anak SDN Jatiwangi 1. Anak-anak diperkenalkan pentingnya bercocok tanam.

Bicara soal tanah, bercocok tanam merupakan cara mencintai tanah. Dan kebun menjadi perpustakaan anak mengenal tanah dan yang tumbuh di atasnya. Bahkan mengenal yang hidup di dalam tanah itu sendiri: cacing yang membantu menyuburkan tanah. Tak hanya itu, anak-anak juga akan mengenal bagaimana menanam dapat membuatmu membuat makanan dari apa yang kalian tanam. Kripik sawi sendok dan kue jahe adalah salah satunya. Makanan itu bahannya dari apa yang tumbuh di Saung Ciranggon. Di Mulok Tanah ini Iing dan Saung Ciranggon menjadi sumber belajar apresiasi tanah di Jatiwangi.

Hanyaterra

Serrum bertemu dengan Tedi dari Jatiwangi Art Factory (JAF). Kami meminta Hanyaterra grup musik yang dinaunginya sebagai sumber belajar. Mulok Tanah sebagai bahan ajar berbasis lokalitas memerlukan sumber belajar kreatif. Hanyaterra merupakan grup musik yang membuat alat musiknya sendiri. Mereka membuat gitar yang bodinya dari genteng.

Hanyaterra akan mengajarkan anak-anak SDN Jatisura 1 mengenai apresiasi seni di Jatiwangi. Tedi mengatakan Hanyaterra akan masuk ke kelas dan memperkenalkan alat-alat musik. Anak-anak juga akan dibimbing membuat alat musik sampai mereka dapat memainkan musik bersama. Tedi bercerita ia akan mengajarkan anak-anak membuat alat tiup dari tanah. Alat itu bisa digunakan saat praktik alat saat bermusik bersama.

Di Mulok Tanah kegiatan kesenian Jatiwangi seperti musik, sastra, seni rupa menjadi pengantar menarik dalam penanaman nilai budaya lokalitas yang khas dan lekat dengan kehidupan sehari-hari mereka. Hanyaterra adalah sumber belajar dalam perspektif musik. Dari perspektif pendidikan, anak-anak diberikan penjelasan bahwa tanah tak hanya menjadi pengetahuan umum. Tetapi ada juga kreativitas seni yang membawa orang-orang agar lebih menghargai dan mencintai apa yang mereka punya. Dan ini tentunya belum ada di matapelajaran mulok yang mereka pelajari.

Serrum juga berkesempatan ngobrol bersama Dominique Lammli. Ia merupakan seniman sekaligus akademisi dan filsuf. Ia sedang residensi di JAF. Saat presentasi mengenai seni dan daur ulang ia mengajak warga di Blok Pahing Desa Jatisura untuk bercocok tanam. Kerja seni Dominique bisa dikatakan penting bagi Serrum. Karena ia menyentuh ranah pendidikan dan transfer pengetahuan bagaimana orang-orang berkebun melalui daur ulang. Ia mengaku kakeknya merupakan petani. Saat kami bertanya perlukah anak-anak belajar bercocok tanam? Baginya tak hanya bercocok tanam, memasak, membawa bekal ke sekolah, menyulam itu merupakan hal yang penting bagi anak.

Di Zurich tempat tinggal Dominique orang-orang berkebun di rooptop. Anak-anak kota yang tinggal di flat mulai berkebun dan mengenal bunga-bunga. Berbeda budaya namun kita memiliki masalah yang sama: perubahan iklim atau global warming. Dari obrolan dengan Dominique, sepertinya Mulok Tanah yang kami susun mesti menyentuh keseharian anak. Semisal dari sisa bekal yang mereka bawa ke sekolah bisa di mulai pengenalan kompos dan tanah sebagai medium menanam. Pertanyaannya apakah Mulok Tanah dapat mengajak anak-anak di SDN Jatisura 1 untuk dapat mengenal tanah Jatiwangi?

*Rianto Irawan adalah salah satu periset dan penulis di Serrum. Lulusan Jurusan Pendidikan Geografi Universitas Negeri Jakarta ini sekarang memegang divisi publikasi dan penerbitan pada Festival Ekstrakurikulab. Pria ini aktif dalam beberapa organisasi, salah satunya adalah Lembaga Kajian Mahasiswa di kampusnya saat itu

Dokumentasi riset sumber belajar untuk muatan lokal tanah

Mulok Tanah-Jatiwangi

Kurikulab Masuk Desa : Menelusuri Identitas Genteng Jatiwangi

Oleh Rianto Irawan*

Sebuah desa memiliki identitas budaya sebagai perekat keutuhan dan kultur masyarakat di dalamnya.

Serrum memiliki kesempatan mengunjungi Desa Jatisura Jatiwangi Kabupaten Majalengka. Jatiwangi merupakan daerah yang ditetapkan Serrum sebagai laboratorium yang akan dilakukan riset Kurikulab Masuk DesaKurikulab Masuk Desa merupakan riset pendidikan yang dilakukan di sebuah desa demi menggali kebudayaan masyarakat lokal dan membuat kurikulum pendidikan berbasis lokal yang nantinya akan dipraktikan di sekolah-sekolah.

Jatiwangi memiliki identitas budaya berupa genteng sebagai produk lokal Jatiwangi. Warga Jatiwangi tak lepas dari tanah sebagai identitas kebudayaan. Iklila selaku mantan Kepala Dusun (Kadus) ingat betul saat demo di Majalengka kala itu. Ia menginginkan genteng sebagai identitas Jatiwangi. “Melalui persaudaraan Jatiwangi, kami sepakat bahwa genteng bukan cuma komoditas tapi juga identitas,” kata Iklila

Masyarakat Jatiwangi tak lepas kehidupannya dari tanah dan genteng. Iklila berkisah mengenai masa kecilnya bagaimana genteng menjadi bagian hidupnya. “Bekal ke sekolah cukup dua genteng, “ kata Iklila.

Begitu juga dengan Pak Apih yang pernah berkisah dengannya mengenai genteng sebagai alat ukur dalam pembelian. “Dulu beli satu sak semen dengan tiga keping genteng,” meniru ucapan Pak Apih. “Beli lima rokok pun cukup dengan satu keping genteng,” lanjutnya.

Ada pula Mandor Abah Emon yang berkisah mengenai klub bola yang didirikannya di suatu pertandingan sepak bola tahun 1993-1996 antara Burujul Kulon dan Burujul Wetan. Saat itu Mandor Abah Emon mampu mendatangkan pesepakbola dari Persib. “Satu orang pemain persib seharga satu colt diesel genteng,” kata Iklila. Sekarang, satu colt diesel seharga lima jutaan.

Jatiwangi diberkahi tanah yang baik, ibaratnya kalau tanah Jatiwangi diinjak bisa jadi genteng. Keberadaan Jebor (pabrik genteng) memiliki peran dalam pengembangan masyarakat sekitar. Dengan adanya Jebor Jatiwangi memiliki dua masa panen yakni panen padi dan panen genteng. Jebor di tahun 1980-an menjadi tempat pariwisata.

“Adapun pariwisata terhebat Jatiwangi tahun 1980 – 1995,” kata Iklila, “Wisatawan domestik beli genteng sambil bawa anaknya. Orang Garut saja sudah bangga banget, kalau ke sini suami istri naik bis nanti pulang bawa genteng. Ada rasa bangga jika ada suami istri pulang bawa genteng,” lanjut Iklila.

Jebor juga memiliki kenangan bagi masa kecil Iklila. Dia ingat betul Anak-anak bisa dibawa ke jebor untuk diayun atau bermain. Berbeda dengan Garmen yang melarang anak-anak bermain di sekitarnya. Jebor menjadi ingatan dan kenangan bagi warga Jatiwangi. Anak-anak sering menghabiskan waktunya bermain di Jebor.

Iklila percaya genteng Jatiwangi adalah identitas desanya. Suatu hari ia pernah mengobrol dengan JJ Rizal, “Ngomongin arsitektur Indonesia belum lengkap tanpa ngomongin genteng Jatiwangi,” kutip Iklila.

Genteng dan jebor adalah jejak-jejak gotong-royong di desa Jatisura, Jatiwangi ini. Hidup mesti seperti genteng, nilainya dibuat dari kegotong-royongan. Kami pun membawa fotokopi buku sejarah Desa Burujul Jatiwangi (Yayasan Al-Rifadah, 1998) karangan Agil Zainudin sebagai acuan bahan riset selanjutnya. Disebutkan bahwa usaha genteng di Jatiwangi bermula dari H.Umar bin H.Ma’ruf yang mendirikan langgar dengan atap genteng. Bermula memperbaiki langgar sehingga menjadi usaha yang turun-temurun. Diketahui genteng menjadi sendi perekonomian selain bertani.

*Rianto Irawan adalah salah satu periset dan penulis di Serrum. Lulusan Jurusan Pendidikan Geografi Universitas Negeri Jakarta ini sekarang memegang divisi publikasi dan penerbitan pada Festival Ekstrakurikulab. Pria ini aktif dalam beberapa organisasi, salah satunya adalah Lembaga Kajian Mahasiswa di kampusnya saat it

Presentasi RPP dan Silabus Muatan Lokal Tanah dengan Komik (Oleh Amy Zaharawaan) sebagai sumber belajar.

Kurikulab Masuk Desa

Latar Belakang

Sebagai seperangkat pengetahuan resmi yang dirumuskan oleh pemerintah, kurikulum pendidikan nasional cenderung bermuatan materi dari pusat pemerintah, Jakarta sebagai ibukota negara. Dengan demikian, terdapat kesenjangan dalam penyajian materi lokal yang memiliki keterkaitan dengan identitas masyarakat perdesaan. Dengan demikian para siswa menerima dan mempelajari materi jauh dari kehidupan mereka. Dampaknya yang terjadi perlahan-lahan identitas lokal terkikis dan keseragaman pola pikir siswa juga menjadi sebuah keniscayaan.

Jatiwangi-Jawa Barat

Jatiwangi adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Majalengka Provinsi Jawa Barat Indonesia. Sebagai salah satu penghasil genteng atap ternama di Indonesia. Jatiwangi memiliki potensi sumber daya alam yang khas yaitu tanah. Genteng yang terbuat dari tanah menjadi hasil kebudayaan yang khas di Jatiwangi. Namun saat ini, masuknya pabrik-pabrik garmen membuat merosotnya industri genteng, dampaknya banyak dari pabrik genteng tutup. Masyarakat Jatiwangi lebih memilih bekerja di pabrik garmen, terutama pada generasi muda. Dampaknya perlahan-lahan identitas lokal Jatiwangi sebagai desa khas akan genteng mulai terkikis.

Pemenang, Lombok-Nusa Tenggara Barat

Suku Sasaq yang menempati Pulau Lombok memiliki banyak sekali bahasa yang berbeda-beda. Banyak bahasa yang sudah tidak digunakan kembali di daerah tersebut. Berdasarkan FGD yang telah kita lakukan Lalaqa (Pantun) menjadi salah satu tradisi yang terus menerus digunakan dalam acara-acara adat seperti pernikahan. Melihat banyaknya bahasa di suku Sasaq itu sendiri Lalaqa pun menjadi banyak.

Background

In Indonesia there is a tendency that the curriculum in schools are standardised by the government, that is why sometimes, the knowledge that has been transmitted to the students in different kind of condition tends to be unreliable to their daily life. This type of generalisation is killing local knowledge and scraping local identity, whereas students need to learn about the unique potential every area can provide. If this goes on, instead of allowing every student to embrace their own competence, each one will aim to be like the majority.

Jatiwangi-Jawa Barat

Jatiwangi is a sub-district in Majalengka, West Java Province. Its historical journey as one of the clay roof tile producer, thanks to its natural resources, which is a unique compound of soil. Producing roof tile is a part of their unique local culture. Yet, these days many big garment industries allocate their factories in the same area with the roof tile factories. Consequently, many young generation in Majalengka choose to work for the garment industry instead. Jatiwangi’s old personality as one of the most notable roof tile producer slowly eroded.

Pemenang, Lombok-Nusa Tenggara Barat

Sasaq tribe that occupies the island of Lombok has a lot of different languages. Many languages are no longer used in the area. Based on the FGD we have done Lalaqa (Pantun) became one of the traditions that are continuously used in traditional events such as weddings. Seeing the many languages in the Sasaq tribe itself Lalaqa became a lot.

Deskripsi

Serrum berkolaborasi dengan masyarakat di daerah untuk mengeksplorasi kurikulum yang bermuatan narasi lokal sebagai sumber pengetahuan. Kemudian membuat rancangan tertulis untuk sebuah mata pelajaran muatan lokal (Mulok) yang berjalan selama satu semester di sekolah daerah tersebut.

Daerah yang pertama kali dipilih adalah desa Jatiwangi, Majalengka, Jawa Barat yang memiliki potensi lokal mengenai budaya tanah. Sedangkan kolaborasi melibatkan komunitas Jatiwangi Art Factory (JAF), SDN Jatisura 01, dan masyarakat setempat. Berkat kerjasama dengan berbagai pihak ini, muncul gagasan untuk mengembangkan mata pelajaran Mulok mengenai Tanah.

Proses pengembangan mata pelajaran Mulok Tanah ini menggunakan metode sejarah lisan, sebuah studi tentang perjalanan sejarah kehidupan masyarakat di sebuah wilayah sebagai sumber utama, dengan cara wawancara lisan dengan masyarakat setempat. Sedangkan penetapan kurikulum, silabus, dan sumber belajar dilakukan secara kolaboratif antara Serrum dan guru-guru SDN Jatisura 01.

Description

Serrum collaborates with Jatiwangi local residents to explore local values and resources that is harmonic with the national curriculum. The exploration will be documented and written as the core base of the local knowledge that can be taught in the formal classroom situation.

Jatiwangi is the first indigenous area that has unique local geographical and cultural condition that would be great to be explored collaboratively. With the help of local community, local elementary school (SDN Jatisura 01) and Jatiwangi Art Factory (JAF) the idea of making local knowledge about Jatiwangi’s unique soil condition into formal academic module in elementary level can be realised.

Research data about Jatiwangi local soil are gathered from different sources, such as verbal history, local wisdom and observation about local culture through truth and tale told by the Jatiwangi residents. Whereas the curriculum itself, is developed collaboratively with the teachers from SDN Jatisura 01.

It seems we can’t find what you’re looking for. Perhaps searching can help.

It seems we can’t find what you’re looking for. Perhaps searching can help.

Collective is a School, Copenhagen

Ekstrakurikulab : Kurikulab & Pasar Ilmu at Den Frie Copenhagen

Kurikulab
We invite 6 collective that runs for years to talk about how their collective/organisation runs, structure, manage their members, and questening what benefit for each individual member. Serrum comes with restatement "Collective is a School". ruangrupa, Forum Lenteng, Jatiwangi Art Factory, Life Patch, Helios, and FUKK. Each collective tell story about how and why their collective establish, what their goal, how they regeneration, what they learn, how their structure, how they survive, how they evaluate, and how their collective support each member individually. Serrum collaboration with FUKK, a artist collective in Copenhagen and took their place for discussion and video recording on April 23, 2016.

The discussion were recorded from above the table, and exhibite as video instalation at Den Frie "Supersub" on April 30 - June 5,  2016.

This project are serrum second step from the previous project in Jakarta 2014. There are 3 disscussion: "what for teachers is", "what for shool is", and "what for education is".

Pasar Ilmu
Its mural interactive project with audience in Copenhagen. Asking "what subject that you can teach to others" and "what subject that you want to learn". People can free to write down on our yellow wall. We were tried to breakdown  the potential basic of collectivism in artsy audience in Copenhagen Denmark.

Sekolah Talenta

Oleh Rianto

Gambar-gambar karya siswa Sekolah Talenta terpampang di dinding. Di dinding ada gambar suasana dalam laut yang penuh ikan dan kura-kura. Penuh warna dan makna. Kali ini Serrum berkunjung ke Sekolah Talenta. Sekolah Talenta merupakan sekolah yang dalam proses belajarnya banyak menggunakan metode seni rupa. Tak heran jika mengunjungi Sekoah Talenta akan ditemui gambar penuh warna di setiap temboknya.

Sekolah Talenta merupakan sekolah ketiga dalam Proyek Sekolah Idaman yang diadakan Serrum. Sekolah Talenta sendiri merupakan sekolah khusus yang di mana siswa-siswanya mengalami kesulitan belajar. Sekolah ini diselenggarakan atas prakarsa yang peduli terhadap dunia pendidikan anak-anak.

Mereka antusias mengikuti proyek Sekolah Idaman. Mengobrolkan imajinasi dan pandangan mereka mengenai sekolah. “Sekolah adalah tempat yang baik,” menurut David Hero menjawab pertanyaan dari Sigit.

Awalnya siswa mengalami kesulitan mengenai gambaran sekolah idaman yang mereka inginkan. Amy dari Serrum membantu dengan menggambarkan contoh di papan tulis mengenai sekolah idaman. Amy mencontohkan sekolah idaman adalah sekolah yang ada kolam renangnya.

Mulailah mereka berimajinasi mengenai sekolah apa yang mereka inginkan. Nicholas mengatakan dia ingin berkisah mengenai dirinya dan sekolahnya. 25 gambar dia hasilkan. Dari cerita yang bergambar itu, Nicholas secara eksplisit mengungkapkan sekolah yang ia inginkan. Nicholas bercerita mengenai pengalamnnya mendapatkan bully oleh teman di sekolah yang sebelumnya. Artinya Nicholas menginginkan sekolah No Bully. Di Sekolah Talenta ada peraturan “No Bully”. Di sekolah Talenta juga Nicholas menyukai pelajaran Matematika dan Seni Rupa. Sekolah yang baik juga menurut Nicholas tidak macet jika dilalui.

“Halaman di Sekolah Talenta bisa dijadikan tempat bermain,” kata Nicholas. Nicholas menginginkan sekolah yang halamannya luas bisa menjadi tempat bermain anak.

Sedangkan David M menginginkan sekolah memiliki dua lantai. Lantai pertama untuk digunakan kelas olahraga. Lantai dua digunakan kelas kesenian dan bermain alat musik. Di sekolah dalam imajinasinya hanya da 14 siswa untuk belajar. Mengenai seragam ia menginginkan seragam untuk upacara atau sehari-hari dan olahraga. Sekolah yang ia namakan “New School”juga mempunyai peraturan “No Bully”. Karena Bully mengakibatkan siswa tak mempunyai teman. Begitu pula yang diinginkan Vincent, di sekolahnya anak-anaknya dewasa tidak seperti anak kecil.

“Sekolah dekat dengan Kampus Atmajaya,” kata Calvin. Ia menginginkan lokasi sekolah yang ia ingikan dekat Kampus Atmajaya. Karena di sana kakaknya berkuliah.

Leonard Nathan mempunyai impian mendirikan sekolah “Garuda Fotografi School”. Sekolah ini merupakan sekolah khusus fotografi. Nathan menginginkan sekolahnya hanya berkaitan dengan fotografi saja. Di Garuda Fotografi School tidak ada pelajaran lain selain fotografi. Dalam gambarnya di kertas, Nathan menjelaskan sekolahnya ada dua ruangan. Ruangan pertama digunakan untuk kelas fotografi. Sedangkan ruangan lainnya berupa taman bebas yang luas yang dipakai untuk mencari foto. Nathan yang bercita-cita masuk universitas ini menginginkan Garuda Fotografi School hanya ada 10 guru.

“Seragam sekolah hanya batik saja,” kata Nathan.

Sekolah Talenta di mata siswa-siswanya adalah sekolah yang ideal. Sekolah Talenta menjadi cermin mereka yang menginginkan sekolah itu No Bully. Bagi Tri sebagai Kepala Sekolah mengenai pengakuan anak-anaknya itu lahir dari perasaan mereka sendiri. Sekolah menjadi tempat bermain sekaligus tempat mereka mempunyai teman.

SMA Negeri 7 Tangerang Selatan

Rabu, 4 Mei 2016

Ada catatan penting saat Lab Sekolah Idaman di SMAN 7 Tangerang Selatan dilaksanakan. Diskusi dilakukan dengan murid-murid.  Mereka merasa nyaman dengan keadaan secara fisik dari sekolah mereka.  Tinggal perawatan yang perlu dilakukan dari seluruh pihak. Ide-ide yang mereka kemukakan dari 3 aspek yang didiskusikan bersama. Pertama, dari fisik dan lokasi mereka mempunyai ide lokasi sekolah berada ditengah hutan. Hal ini disebabkan agar menghindari tawuran dengan sekolah lain.

Kedua, dari aspek sistem mereka mengemukan ide tentang siswa bisa mengutamakan memilih keterampilan dan keahlian mereka (peminatan) namun dengan catatan pada saat ujian harus mengutamakan kejujuran.

Ketiga, dari segi Budaya Sekolah hubungan guru dengan murid harus cair namun tetap menghargai. Yakni adanya kebebasan berpendapat di antara warga sekolah namun dengan batasan, menjunjung tinggi siswa yang jujur. Dari ide-ide liar beberapa murid mengemukakan bahwa tidak ada senioritas namun kemampuan "bertahan hidup" yang dibutuhkan. Karena meraka mengimajinasikan sekolah mereka berada di hutan yang liar.

Wednesday, May 4, 2016

Important note was taken during the Ideal School (translated: Desirable School) lab in High School  7 South Tangerang when a discussion was done by the students. They claimed to be comfortable with physical condition of their school.  Only the maintenance that should be done all school parties, no exception.

There were three main aspects of their idea discussed durng the meeting. First, the physical aspect: school should be located in the middle of a forest to avoid school fight. Second, the learning method: they suggested students can prioritize and choose their own skills (as their major) but they have to be honest during the test. Third, the cultural aspect: relationship between students and teachers should be more blended yet still put forward respect – a freedom to express their opinions (with certain borders) and uphold students’ honesty.

From those wild ideas, some students argued that there shouldn’t be any seniority but the ability to ‘survive’ that is needed the most as they are imaging their school placed in the middle of a jungle.

 

Sekolah Idaman

Sekolah Idaman

Latar Belakang

Sejak pertama kali didirikan, sekolah di Indonesia tidak pernah melibatkan siswa untuk menentukan bentuk serta aturan main yang akan dilaksanakan dalam sekolah. Sekolah dengan berbagai konfigurasinya menjelma menjadi sebuah impian yang sudah tersedia di hadapan masyarakat. Sekolah Idaman mencoba untuk mengubah logika konstruksi sekolah, bukan menjejalkan serangkaian konsep kepada masyarakat, melainkan mengumpulkan imaji-imaji dari sudut pandang siswa. Metode yang digunakan oleh Serrum yaitu berdialog dengan para siswa guna mengeskplorasi imajinasi mereka ihwal sekolah dalam tiga aspek yaitu, budaya, sistem, dan bentuk fisik sekolah.

Background

In the process of establishing rules in a school, student perspective is often disregarded. A school with its own configuration simply exists as a place within the society. Sekolah Idaman (translated: Desirable School) attempts to shift logical construction of a school. Rather than a ready-made educational space, but gathered imageries from its residents’ perspectives. Dialogue between students will be the base practice in this project to explore three fundamental proposition, which are the culture, the system, and the physicality of the school.

Deskripsi

Sekolah Idaman mengajak siswa untuk menafsirkan makna tentang sekolah. Bagaimana perspektif dan imajinasi siswa untuk sekolah sebagai rumah ke dua dari kehidupan sehari-hari mereka selama 12 tahun. Sekolah Idaman akan dilaksanakan untuk siswa dan siswi Sekolah Menengah Atas (SMA) di berbagai kota di Indonesia. Pemilihan sekolah didasari beberapa pertimbangan yakni, latar belakang sosial dan ekonomi murid, kecenderungan kemampuan kognitif murid, serta kecenderungan sekolah dalam membangun budaya di dalam institusinya. Pada praktiknya siswa dan seniman akan berkolaborasi untuk mensimulasikan hasil imajinasi mereka dengan pendekatan artistik.

Description

Sekolah Idaman invites learners or students to re-invent the meaning of school as a place and school as an activity. Most students spent their formal education for twelve years and there are not few that feel problematic to be at school. Sekolah Idaman is designed for students aged 15-19 which is are equivalent with secondary high school students in Indonesia. The chosen school is observed and evaluated based on the school students’ social capital, cultural capital, students’ cognitive inclination and its social culture as a sphere. Students will be collaborating with artist to simulate their ideals and desires integrated with aesthetic and artistic approach.

Documentation

Sekolah Talenta
Gambar-gambar karya siswa Sekolah Talenta terpampang di dinding. Di dinding ada gambar suasana dalam laut yang penuh ikan dan kura-kura.
Read more.
SMA Negeri 7 Tangerang Selatan
Ada catatan penting saat Lab Sekolah Idaman di SMAN 7 Tangerang Selatan dilaksanakan. Diskusi dilakukan dengan murid-murid.  Mereka merasa nyaman
Read more.
Sekolah Idaman
Sejak pertama kali didirikan, sekolah di Indonesia tidak pernah melibatkan siswa untuk menentukan bentuk serta aturan main yang akan dilaksanakan
Read more.

Rumah Guru

Latar Belakang

Beragamnya pengetahuan yang harus disampaikan guru kepada murid di sekolah kerap menimbulkan kebuntuan untuk mencari cara efektif dalam penyampaian proses belajar-mengajar. Khususnya guru-guru yang berada di daerah terpencil, seperti di Indonesia bagian timur, yang minim fasilitas dan terjebak pada materi pusat. Guna menciptakan kemungkinan-kemungkinan baru dan memecah kebuntuan-kesenjanganyang dialami guru, Serrum menyelenggarakan laboratorium Rumah Guru, yang berusaha menghubungkan titik temu antara inti suatu materi belajar dengan metode seni rupa.

Latar Belakang

Beragamnya pengetahuan yang harus disampaikan guru kepada murid di sekolah kerap menimbulkan kebuntuan untuk mencari cara efektif dalam penyampaian proses belajar-mengajar. Khususnya guru-guru yang berada di daerah terpencil, seperti di Indonesia bagian timur, yang minim fasilitas dan terjebak pada materi pusat. Guna menciptakan kemungkinan-kemungkinan baru dan memecah kebuntuan-kesenjanganyang dialami guru, Serrum menyelenggarakan laboratorium Rumah Guru, yang berusaha menghubungkan titik temu antara inti suatu materi belajar dengan metode seni rupa.

Deskripsi

Proyek ini melibatkan guru bidang studi dan seniman untuk berkolaborasi. Kedua pihak ini akan memilih materi belajar lalu mendiskusikan intisarinya, agar selanjutnya dapat ditentukan metode seni rupa yang tepat. Usai memilih kedua elemen dasar tersebut, guru dan seniman akan mempraktikannya di dalam kelas. Guru yang akan berkolaborasi diutamakan yang berasal dari daerah terpencil Indonesia, khususnya Indonesia bagian timur. Dengan pendekatan seni rupa, diharapkan materi ajar akan menjadi menyenangkan dan imajinatif merangsang pemikiran kreatif siswa.

Deskripsi

Proyek ini melibatkan guru bidang studi dan seniman untuk berkolaborasi. Kedua pihak ini akan memilih materi belajar lalu mendiskusikan intisarinya, agar selanjutnya dapat ditentukan metode seni rupa yang tepat. Usai memilih kedua elemen dasar tersebut, guru dan seniman akan mempraktikannya di dalam kelas. Guru yang akan berkolaborasi diutamakan yang berasal dari daerah terpencil Indonesia, khususnya Indonesia bagian timur. Dengan pendekatan seni rupa, diharapkan materi ajar akan menjadi menyenangkan dan imajinatif merangsang pemikiran kreatif siswa.

[the-post-grid id="926" title="Tes"]

Bertegur Sapa Bertukar Karya 2017

“Bertahun-tahun punya teman seniman, masa gak ngoleksi karyanya”

MG Pringgotono - founder SERRUM

 

Bergaul di sekitaran seniman, yang memproduksi gagasan, karya dan pengetahuan. Serrum sebagai kolektif seniman yang berdiri sejak tahun 2006, telah bertemu, mengenal dan dekat dengan para praktisi kesenian, seperti seniman, desainer, akademisi dan banyak lagi profesi Sebagai praktisi yang bekerja di bidang kesenian, otomatis kita berada di lingkungan kreatif, bidang kesenian lainnya. Kekerabatan dengan mereka diasah dalam kerjasama-kerjasama dalam bekerja, namun sebagai seorang kerabat yang sama-sama memproduksi karya, kita jarang sekali mengkoleksi karya dari sesama kerabat seniman.

Dengan itu, Serrum merasa perlu untuk membuat acara Bertukar Sapa Bertukar Karya sebagai bentuk apresiasi terhadap kekerabatan Serrum bersama teman-teman seniman selama ini. Dengan format layaknya sebuah arisan, masing-masing seniman akan mengirimkan karya untuk dipamerkan bersama. Di malam pembukaan pameran, data karya akan diletakan di sebuah wadah, masing-masing seniman yang berpartisipasi akan mengambil hasil undian tersebut, dan mendapatkan masing-masing satu karya dari kerabat lainnya secara acak.

Pola kerja Serrum yang menggunakan metode kolaboratif dan partisipatif telah menghasilkan bentuk kerjasama dengan berbagai pihak. Sehinga jaringan merupakan nilai yang berharga diantara harga karya yang mahal untuk dikoleksi. Bertukar Sapa Bertukar Karya diharapkan menjadi titik temu dan berbagi atas dedikasi kekerabatan kita selama ini.

Berikut adalah ketentuan untuk berpartisipasi dalam Bertegur Sapa Bertukar Karya 2017 :

  1. Ukuran Maksimal karya 2D 100x100 cm dan Minimal 20x20cm.
  2. Untuk karya Video Max 10 menit (dikemas dalam bentuk objek    dan pantas dikoleksi).
  3. Karya siap dikoleksi dengan kemasan yang menarik.
  4. Karya diproduksi dengan kuantitas terbatas dan koleksi khusus.
  5. Mencantumkan alamat pengiriman lengkap untuk pengiriman kembali.
  6. Karya di terima paling lambat 21 September 2017 dengan alamat pengiriman karya Jln Pancoran Timur II No.4, Jakarta Selatan 12780 | Indonesia.
  7. Karya belum dikoleksi oleh siapapun.
  8. Wajib mengisi formulir disini